Siapakah orang yang paling berpengaruh didunia. Jawabnya bisa berbeda dilihat dari sudut pandangnya. Ada yang mengatakan Presiden Amerika Serikat. Sebagai Negara super power adi kuasa tentu dia mempunyai kekuatan yang amat menentukan dunia. Tapi seorang presiden Amerika Serikat mempunyai masa jabatan terbatas. Maksimal 10 tahun.
Karena itu mereka sepakat bahwa orang yang paling berkuasa didunia adalah Rupert Murdoch. Ia lah pemilik News Corporation – perusahaan media yang memiliki jaringan ratusan media, cetak, radio dan televisi diseluruh dunia. Paling menonjol tentunya televisi. Ia memiliki mayoritas saham di Fox Channel yang menjadi channel keempat setelah ABC,NBC dan CBS di Amerika Serikat. Ia memiliki 30 saluran cable dan satelit di negri itu. Separuh dari kepemilikan saham National Geography dan sebagian saham GE yang menjadi induk dari televisi saingannya NBC. Diluar Amerika Murdoch memiliki dua puluh delapan saluran televisi di Inggris saja, delapan diantaranya berbagi share kepemilikan dengan Paramount dan Nickelodeon (Cartoon Channel yang paling kuat di dunia). Dia memiliki dua TV di Jerman, 16 tv lokal di Australia, satu di Canada enam di India. Murdoch lewat perusahaannya Star TV menguasai enam saluran televisi yang secara total menguasai 60% dari audience share negara itu. Murdoch juga memiliki saham minoritas disebuah stasiun TV Italia, dua di Jepang, delapan di Amerika Latin. Lewat Star TV Murdoch mengakusisi mayoritas saham ANTV dan sedang ber ancang-ancang untuk mengambil stasiun televisi ke dua di Indonesia – Lativi ?.
Di media cetak Murdoch memiliki 31 koran di Australia termasuk yang terbesar The Age. Tiga di kepulauan Fiji, beberapa koran besar di Inggris diantaranya The Sunday Times dan the (Daily) Times. Karena ia mengakusisi dua koran nasional yang beroplag jutaan eksemplar. Di Inggris itu Ia berhadapan dengan Undang Undang Monopoli. Ia tidak menyerah. Ia menunda akuisisi tersebut dan sementara itu berjuang habis mensupport Kandidat Partai Konservatif Margaret Tacher sebagai Perdana Mentri Inggris. Tata kala akhirnya Tacher menang dan menjadi Perdana Mentri, mulus lah upaya nya untuk mengakuisisi dua koran besar tadi.
Majalah terkemuka The Economist tahun 2000 melaporkan Murdoch holding company di Inggris memperoleh keuntungan 2,1 milyar dollar setahun namun lewat pembukuan yang kreatif dan lobby politiknya ia tak membayar satu shilling pun pajak ke pemerintah.
Murdoch adalah tipe orang yang tidak pernah mau kalah dalam menjalankan bisnisnya. Ketika dia berniat masuk dalam pasar Amerika, langkah pertama adalah membeli tabloid The New York Post dan melalui support dari Walikota New York waktu itu (yang dijanjikan untuk mendapat Rubrik untuk liputan tetap di tabloid itu) dia segera mendapatkan approval dari Walikota NY tersebut.[1]
Ketika dia memutuskan untuk mengembangkan bisnis jaringan radio dan televisi di Amerika, ia terkena ketentuan Undang-Undang yang melarang asing memiliki lebih dari 24.9% saham di radio dan televisi. Murdoch segera mengganti kewarganegaraannya dari Australi menjadi warga negara Amerika Serikat. Meskipun demikian dia masih berhadapan dengan salah satu regulasi yang mengharuskan parent corporation – perusahaan induknya harus berbasis di Amerika. Murdoch menolak karena ia memperoleh special tax advantage di Australia. Dengan menggunakan kekuatan empat surat kabar dan dua tabloid yang dimilikinya dia melakukan lobby dan berhasil memperoleh perlakuan khusus, boleh memiliki majority saham tanpa harus memindahkan perusahaannya ke Amerika – sebuah previlledge yang tidak akan diterima oleh siapapun setelah itu.
Contoh lain tahun 1990 Murdoch mengajukan pinjaman ke Export Import Bank of the United State, CEO bank tersebut menolak permintaannya. Murdoch kemudian bertemu dengan Presiden Jimmy Carter di White House bersama dengan Presiden Bank tersebut. Delapan hari kemudian Export Import bank memberi pinjaman US$250 juta kepada Murdoch untuk investasi di sebuah perusahaan penerbangan yang baru.
Pada tahun 1998 Murdoch lewat News Corporation mengakusisi HarperCollins Publisher yang revenue tahunannya mencapai 1 Milyar Dolar per tahun. Sementara itu Murdoch’s Fox Network sekarang menjadi saluran televisi ketiga mengalahkan NBC, yang kekuatannya pada sport programming.
Kalau anda menonton film James Bond “The World Is Not Enough”, anda tentu mengetahui sosok antagonis di film itu yang terinspirasi oleh Ruperth Murdoch. Digambarkan seorang yang sangat berkuasa, memiliki kantor berita, surat kabar, televisi dan jaringan satelit di seluruh dunia dan memanfaatkan kekuatan media. mencoba “mengatur” perang antara Inggris dan China – untuk mendapatkan hard news exclusive. Awalnya saya tidak percaya ada orang seperti itu tapi ketika saya membaca buku tulisan Neil Chenoweth “Virtual Murdoch” – Reality Wars on the Information Highway, akhirnya saya setuju bahwa Murdoch adalah tokoh yang menjadi insirasi raja media di film James Bond tersebut.
Ketika saya sedang dalam perjalanan udara dari Singapore ke Melbourne dua minggu yang lalu, tetangga duduk sebelah saya, seorang ibu warganegara Australia tertarik dengan buku Murdoch yang saya baca dan mengatakan: temannya seorang arsitek baru saja menyelesaikan kamar kerja Murdoch di Sydney. Di kamar kerja itu dipasang 40 layar televisi yang merupakan saluran televisi miliknya diseluruh dunia. Dari tempat itulah kalau ia di Sydney mengkontrol kerajaan bisnisnya. Dan apabila ia melihat hal yang salah di saluran televisi miliknya dimanapun diseluruh dunia ia segera menghubungi manajer televisi yang bersangkutan untuk menegurnya atau memecatnya – persis sama dengan kelakuan dalam film James Bond “The World Is Not Enough”.
Saya bertemu dengan Murdoch tahun 1999. Suatu pagi Mrs. Elizabeth O'Neill dari Kedutaan Australia menelpon saya dan mengatakan Robert Murdoch mau ketemu dengan saya dan Pak Alex Kumara sore hari di Hotel Regent, Kuningan. Jam 16.00 saya bertemu dengan dia dan istrinya – yang baru dinikahinya. Dua pertanyaan yang diajukan kepada saya : 1) apakah TVRI akan dijual ? “kenapa” Tanya saya. “Karena TVRI mempunyai jaringan terluas di Indonesia, saya tertarik”. Ketika saya mengatakan TVRI tidak mungkin dijual karena itu televisi milik pemerintah, Murdoch balik bertanya apakah Trans TV akan dijual ? saya mengatakan: TRANS TV belum mengudara dan saya meragukan apakah Pak CT akan menjual begitu awal. Kami kemudian mengobrol lebih kurang 40 menit sebelum di kembali ke Hongkong dengan pesawat pribadinya.
Di Hongkong dia memiliki Star TV yang memiliki jaringan majority di India, China, Thailand, Philipine, Malaysia dan Indonesia (ANTV-STAR TV).
Bisnis Murdoch seakan tidak terbendung lagi, tahun 2003 ia mengakusisi Huges Direct TV Satellite System – yang memungkinkan ia mengembangkan televisi satelit di seluruh dunia dan menambah annual incomenya sampai dengan 9 Milyar Dollar.
Musim panas tahun 2005, Murdoch mengakusisi bisnis on line dengan mengakusisi My-Space.com[2] – sebuah situs jaringan dengan harga 587 juta dollar. Pada saat yang sama ia juga mengakusisi situs internet lokal maupun internasional. Lewat tangan dinginnya, setahun setelah di akusisi, My-Space assetnya meningkat 5 kali lipat menjadi 3 Milyar Dollar. Sekarang My-Space menjadi salah satu situs paling popular di Amerika Serikat, bersama Yahoo!, Google, MSN dan Ebay. Langkah Murdoch tidak salah karena My-Space yang didirikan oleh dua anak muda Tom Andersen dan Christ DeWolfe tiga tahun yang lalu merupakan situs yang lagi melejit sekarang ini karena menjadi tempat mangkal dari hampir semua musisi dunia saat ini. Mulai dari Janet Jackson, Bob Dylan sampai dengan 2.2 juta musisi lainnya diseluruh dunia.
Murdoch memang “the most powerfull person in the world today”. Dengan kerajaan media yang dimilikinya diseluruh dunia, mulai dari televisi, tv cable, tv satellite, media cetak, radio dan sekarang ini media on line. Dia menjadi orang yang menentukan siapa yang akan menjadi Perdana Menteri Australia, Perdana Menteri Inggris maupun Walikota New York bahkan Presiden Amerika Serikat.
Itulah Rupert Murdoch, seorang pebisnis vissionare yang memulai usahanya dengan mengelola sebuah Koran lokal di Adelaide 40 tahun yang lalu.
Kerja keras, tak mengenal belas kasihan, berani mengambil keputusan dan menghalalkan segala cara. Ketika menjadi mahasiswa di Oxford, dia dipanggil oleh teman-temanya sebagai “Red Rupperth” karena pemikiran-pemikirannya yang sangat radikal – dengan tujuan menghalalkan segala cara. Sebuah julukan yang ternyata tepat tatkala dia dengan gayanya yang tak mengenal kasihan menjalankan global bisninya 30 tahun kemudian.
Jakarta, 18 Oktober 2006.
Ishadi S.K.
[1] Buku “The New Media Monopoly, Ben. H. Bagdikian Hal 37-41
[2] Majalah Tempo edisi 25 Sept, hal 74.
Friday, February 16, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
1 comment:
Thanks, sekalian ijin share. salam
Post a Comment