Senin, 11 Desember pagi dengan pesawat Malaysian Airlines MH-710, saya berangkat ke Kuala Lumpur atas undangan Astro untuk menyaksikan launching (peluncuran) Satelit MEASAT-3. Ada 40 orang dari Indonesia yang diundang, diantaranya dari TV Station, Kabel TV, Dirjen Postel, Advertising Agencies, Pemilik Operator Telephone Cellular dan KPI. Kami semua ditempatkan di hotel Mandarin, bersebelahan dengan KLCC – tempat acara launching dilakukan.
Dari Pihak Astro bersama kami ikut serta Nelia Molato Sutrisno CEO PT. Direct Vision – perusahaan yang mengelola hardware dan pelanggan Astro di Indonesia dan Dewi Fadjar (DF), COO PT. Adikarya Visi yang mengelola content Astro Indonesia – DF bersama saya di jajaran Direksi TPI (tahun 1996 – 1998).
Astro adalah perusahaan TV cable Malaysia yang didirikan pada tahun 1996. Merupakan salah satu dari tiga perusahaan milik Ananda Krishna seorang Taipan Malaysia. Dua perusahaan lainnya Measat Satellite Systems Sdn. Bhd. yang memiliki satelit Measat 1 dan 2, didirikan 13 tahun yang lalu dan Maxis System Sdn. Bhd. yang bergerak dibidang telekomunikasi didirikan enam tahun yang lalu. Ananda Krishna menggandeng Pemerintah Malaysia untuk mendirikan perusahaannya. Astro adalah perusahaan TV Cable Malaysia dan pertama di Asia yang menyalurkan tidak hanya 60 program televisi namun juga saluran pay per view (penonton bisa minta program apapun pada hari dan jam yang diinginkan dengan cara membayar per program tayangan).
Ketiga perusahaan itu Measat, Astro dan Maxis merupakan bagian dari program Malaysia masuk dalam Gelombang ke-tiga Revolusi Informasi. Sekarang ini, Astro misalnya mempunyai 2 juta pelanggan di seluruh Malaysia yang masing-masing membayar 30 Ringgit Malaysia per bulan. Astro kini mengembangkan diri ke India, Brunai Darussalam dan Indonesia.
Dibawah Mahathir, Malaysia berkembang pesat khususnya dalam konsep percepatan pembangunan ekonomi lewat Revolusi Informasi. Mahathir pada tahun 1989 membangun sebuah kawasan seluas 750 Km2 yang terhubungkan dengan Cyber System memanjang dari KLCC Twin Tower (ditengah Kota Lama Kuala Lumpur) sampai dengan Kuala Lumpur International Airport yang baru. Diantara kedua wilayah itu didirikan dua kota baru. Yang pertama Putra Jaya – Pusat Pemerintahan dan Birokrasi serta Cyber City – Pusat perdagangan dan bisnis industri IT. Visi Mahathir adalah “membangun elektronik government” yaitu pemerintahan yang sepenuhnya dijalankan oleh IT untuk melayani seluruh penduduk dan kalangan bisnis. Proyek yang awalnya dinilai sangat ambisius itu dipersiapkan dengan baik. Dimulai dengan pertemuan di Stanford University Amerika Serikat pada bulan Januari 1989 antar delegasi Pemerintah Malaysia dengan sebuah panel ahli yang terdiri dari Bill Gates (CEO Microsoft), James Barcksdale (CEO Netscape), Stan Shih (CEO Acer), Louis Gertsner (CEO IBM), Alvin Toffel dan Kehinchi Omahe untuk menyiapkan blue print bagi pembangunan sebuah Malaysia Multi Media Super Coridor.[1] Sistim Satelit Measat dan Astro Cable adalah bagian dari proyek besar ini. Indonesia sebetulnya telah mulai dengan Sistim Komunikasi Satelit Domestik Palapa (SKSD Palapa), sejak 1976. Tiga belas tahun sebelum gagasan Mahathir di jalankan. Namun berbeda dengan Mahathir, Presiden Suharto gagal untuk mendorong momentum itu untuk membangun sistim informasi terintegrasi dilingkungan birokrasi dan usaha swasta. Nampaknya perseteruan yang keras antara kelompok ITB dibawah Iskandar Alisjahbana – yang mendorong IT dengan kelompok Wijoyo Nitisastro – yang cenderung memperkuat struktur birokrasi lewat sistim konvensional dan top down, menyebabkan Suharto tidak segera memanfaatkan momentum Palapa.
Kembali ke Measat. Satelit yang diluncurkan adalah satelit Measat-3 yang menggantikan satelit Measat-2 yang habis masa edarnya tahun ini. Satelit tersebut diluncurkan di Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan. Satelit Boeing 601 HP itu termasuk satelit berkapasitas besar karena memuat 24 transponder C-Band dan 24 transponder Q-Band. Meliput seluruh kawasan Asia Pacific, Timur Tengah, Afrika Timur, Australia, Malaysia, Indonesia dan Asia Selatan.
Dihari peluncuran 12 Desember 2006, sekitar 1000 an orang umumnya klien Measat maupun Astro dan Maxis, orang-orang media, pemasang iklan, pengusaha telephone seluler dan fix telephone juga hadir ditempat ini. Gedung sebesar Plenary Hall di Balai Sidang tersebut dihias bagus sekali – ada tiga layar LCD dan ada bendera Malaysia seluas dinding yang dipasang di dinding kiri dan kanan. Ada 20 an kursi untuk VVIP, sedang yang lainnya di meja dan kursi bar yang artistik disediakan untuk sebagian tamu VIP. Dua jam sebelum acara tamu telah datang untuk menikmati sarapan pagi diiringi oleh musik Quartet classic live. Lampu dan set dekor dengan tema futuristic yang remang-remang namun Indah menghiasi seluruh ruangan. Pukul 07.15 pagi Wakil Perdana Menteri Malaysia Seri Moh. Datuk Najib, Putra PM Malaysia Tun Razak datang dan acara dimulai. Sambutan pertama oleh Tun H. Mohamad Bin Umar, Direktur Utama Measat Satellite System Sdn. Bhd. Ia mengatakan : “Measat-3 akan meningkatkan kapasitas satelit Malaysia tiga kali lipat. Kemampuan Q-Band nya memungkinkan system digitalization broadcasting free to air maupun cable TV Malaysia, termasuk High Definition TV (HDTV), Video on Demand (VOD) dan Internet Protocol Television (IP TV)”. Dilanjutkan dengan sambutan oleh Wakil Perdana Menteri. Ia mengatakan : “Satelit ini akan mempercepat perkembangan ‘a knowledge based economy Malaysia’ ”.
Tujuh menit sebelum count down tiga layar besar LCD maupun puluhan TV plasma melaporkan dari Baikonur tentang persiapan akhir peluncuran satelit Measat-3. Tiga puluh detik sebelum countdown semua lampu dipadamkan, seluruh gedung diramaikan oleh kreasi lighting, kembang api dan audio yang gemuruh. Setelah itu countdown dan satelit meluncur ke angkasa diiringi oleh lagu kebangsaan Malaysia. Seluruh hadirin bertepuk tangan riuh rendah, terpesona oleh suasana waktu itu. Ade Armando, Pimpinan KPI berkata kepada saya : “saya bukan orang Malaysia tapi saya merasa kagum dan terharu melihat acara ini”. Saya membalas : “itulah sebabnya jangan industri televisi di Indonesia ini dihalang-halangi kemajuannya. Yang anda lihat ini adalah pendekatan dan promosi bisnis, meskipun tujuan akhirnya adalah kepentingan Negara Malaysia”.
Astro yang menyelenggarakan event ini adalah perusahaan swasta besar di Malaysia. Dari pelanggannya saja di Malaysia, Astro memperoleh revenue tetap sebesar 3.5 T Rupiah per tahun – tiga kali lebih besar dari revenue RCTI tahun ini. Saya jadi teringat kilas balik acara peluncuran satelit Telkom di Cibinong pertengahan November 2005 dilakukan pada pukul 07.00 pagi di stasiun bumi Telkom Cibinong. Dipasang tenda besar di halaman. Sekitar 500 hadirin datang – sebagian besar adalah anggota DPR, Pejabat Telkom, Dept. Infokom serta aparat birokrasi pusat maupun daerah. Ada sebuah layar lebar yang gambarnya remang-remang menceritakan detik-detik sebelum peluncuran satelit. Suara countdown yang tidak jelas dan acara yang sangat formal. Bahkan ketika Presiden SBY berpidato microphone mati, terpaksa Presiden menggunakan microphone cadangan yang suaranya sayup-sayup tak sampai.
Saya sudah beberapa kali menyaksikan peluncuran satelit Telkom maupun Palapa dan selalu suasananya sama – formal dan birokratis.
Peluncuran Satelit Measat-3 menunjukkan perbedaan jelas diantara kita dan Malaysia. Malaysia sudah masuk dalam era Malaysia in corporated. Dimana pemerintah telah menyatu dengan usaha swasta. Mahathir berhasil merubah attitude para birokrat Malaysia dengan berulang-lang mengatakan : “Gaji anda diperoleh dari private sector, yakni dari pajak yang mereka bayarkan ke Negara. Jadi kalau anda membantu private sector – itu berarti anda membantu diri anda sendiri”.
Sementara Indonesia masih berada di era Malaysia 15 tahun lalu. Waktu itu kondisi Malaysia digambarkan oleh Mahathir sebagai : “Pemerintah waktu itu merasa sebagai musuh dari private sector. Dan sebaliknya sektor swasta melihat regulasi-regulasinya di buat Pemerintah sebagai hambatan bagi usaha bisnis mereka”.[2]
Model tata acara peluncuran satelit kedua Negara mencerminkan perbedaan kondisi dan situasi hubungan pemerintah dan bisnis kedua Negara.
Saya mimpikan pada acara peluncuran satelit berikutnya lima tahun lagi acara seluruhnya dirancang dan diselenggarakan oleh Trans Corp. Dijamin akan jauh lebih semarak, lebih bagus, lebih meriah dan lebih mengharukan katimbang peluncuran Measat-3. Dijamin lebih dahsyat dari Penta5. Hehehe…….
Jakarta, 27 Desember 2007
Ishadi S.K.
[1] Keberhasilan Pemerintah Malysia menyusun team ahli yang terdiri dari tokoh paling berpengaruh dalam praktek Information Techonolgy Dunia sekaran ini – dimungkinkan oleh pendekatan langsung dan pribadi Dr. Mahatir Mohammad kepada mereka lewat lobby intensif di Malaysia maupun Amerika Serikat. Khususnya kemampuan Dr Mahatir untuk menjual Malaysia dan menjadi contoh sebuah Negara berkembang yang akan melakukan lompatan ekonomi lewat MSC, telah menyebabkan tokoh-tokoh IT itu tertarik, ikut serta memberi arahan blue print dan bahkan membantu program pendidikan dan latihan serta menyumbang perangkat teknologi terbaru untuk proyek MSC ini. Lihat www.mdc.my/flagship/.index.html.
[2] Hajrudin Somun : “Mahathir The Secret of the Malaysian Success”. Pelanduk Publications (M) Sdn Bhd. Malaysia 2003.
Friday, February 16, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment