Friday, February 16, 2007

4T

Secara tidak sadar kita sudah lama memasuki era globalisasi. Meskipun untuk Indonesia secara praktis telah dimulai pada bulan Agustus 1976, tatkala Indonesia meluncurkan satelit Palapa. Soal istilah Globalisasi masih gamang di pemahaman sebagian besar kita. Saya mencoba untuk membuat petanya, agar bisa dipahami dengan mudah, ”habitat” apa globalisasi itu dalam konteks budaya, sehingga kita bisa menyikapinya dengan benar.

Pada Tahun 1987, dalam sebuah seminar di Universitas Indonesia, Prof. Dr. Daradjatun Kuntjoro Jakti, menyebut revolusi 3T untuk memaknai globalisasi yakni : revolusi transportasi, revolusi travel dan revolusi telekomunikasi. Saya menambahkan T yang terahir : Televisi – sehingga menjadi 4T. Konsep inilah yang saya ajarkan di kuliah setiap kali saya mengajar di UI, Unair Surabaya maupun di Universitas Sekolah Tinggi Filsafat Sanata Dharma di Yogyakarta sampai sekarang. Mari kita ”petani” 4T tersebut :

1. Transportasi.
Menurut Prof. Daradjatun Kuntjoro Jakti, revolusi transportasi menjadi indikator paling jelas dari globalisasi. Diantaranya di sektor industri konsumtif. Tumbuh Mal di pusat-pusat kota, Outlet di berbagai tempat yang menjual produk dari berbagai negara di import melalui sistem ”ro-ro” – roll in roll out. Sistim ini mengangkut produk, katakanlah sepatu Nike dari pabriknya di Tanggerang menggunakan container dibawa dengan truk ke Tanjung Priok. Dari Tanjung Priok dibawa kapal container berukuran sedang ke Singapura. Dari Singapura lewat kapal-kapal sea train – yang bisa mengangkut ratusan container sekaligus ke Los Angeles di pantai barat Amerika. Dari Pantai Barat diangkut dengan Kereta Api ke Pantai Timur New York. Dari Stasiun Kereta Api NY diangkut dengan truk ke toko-toko dan mal di kota itu. Sepatu ”Nike” tiba tepat waktu sehingga tidak perlu inventory yang besar di toko-toko dan sudah diperhitungkan kapan sepatu-sepatu tersebut datang. Tidak perlu melewati bongkar muat dan pemeriksaan menjelimet di berbagai pos. Karena perjalanan singkat – paling lama tiga minggu, stock tersedia dalam jangka waktu yang ”fresh from the oven” baik dari sisi modelnya maupun jenisnya. Konsep ini juga yang memungkinkan pabrik-pabrik mobil besar Toyota, Ford, Mercy memproduksi mobil dengan cepat. Karena komponen-kompenen sudah dibuat di berbagai sub-contractor diseluruh dunia. Pintu dari Turki, Jok kulit dari Spanyol, chasis dari Jepang, body mobil dari Brazil, mesin dari Jerman. Di pabrik mobil Mercy di Stugrat, Jerman, setiap 25 detik diluncurkan sebuah mobil berbagai type dari kelas A, C, E hinggal S class, itu berarti sekitar 4,500 mobil setiap hari. Dan segera dengan sistim ’ro-ro’ dikapalkan ke pelosok dunia. Setelah krisis 1997 Taiwan sebagai negara Asia yang paling banyak mengimport Mercy, pada bulan September 1999 dalam semalam pernah memesan 2,500 Mercy type C, E dan S Class, berkat sistim ontime delivery ini.

2. Travel
Globalisasi ditandai dengan perjalanan yang luar biasa. Mobilitas penduduk dunia menjadi sangat tinggi yang mengakibatkan revolusi dibidang travelling – perjalanan. Di produksi kapal-kapal penumpang luxurious sampai yang terbesar 200,000 Ton untuk menjelajahi Trans Atlantic maupun Trans Amerika – Amerika Utara sampai Amerika Selatan. Dikembangkan jalan-jalan tol bebas hambatan yang menghubungkan antar kota, antar propinsi dan antar negara. Orang sekarang praktis bisa berkendaraan dari Bali sampai ke Finlandia. Kereta Api dikembangkan dan melahirkan kereta api cepat – ”bullet train” yang kecepatannya memungkinkan jarak Jakarta – Surabaya ditempuh dalam waktu 2 jam. Pesawat terbang jumbo dikembangkan. Awal tahun 2007, Singapore Airlines menjadi Airlines pertama yang menerbangkan pesawat 2 lantai Air Bus 380.yang bisa memuat 600 orang. Terbang dari Singapore ke London dan dari Singapore ke Sydney. Untuk keperluan tersebut lima tahun terakhir beberapa lapangan udara telah menyiapkan diri. Lapangan Terbang Changi di Singapore sudah membuka terminal ke-Empat. Hongkong dengan lapangan terbang Hongkong International Airport – Chek Lap Kok, yang baru dibangun tahun 1998 dengan biaya 20 Milyar Dollar sudah siap menampung pesawat-pesawat Super Jumbo. Malaysia telah membuka bandara baru KLIA – 60 km dari KL. Bangkok segera meresmikan bandara baru. Bandara baru tersebut sudah bisa menampung kedatangan dan keberangkatan A-380 dengan garbarata bertingkat sebayak 6 buah sekaligus. Demikian pula dengan proses bongkar muat barang, naik turun penumpang serta pendukung imigrasi. Dari lapangan terbang ini penumpang diangkut dengan feeder line berupa pesawat-pesawat lebih kecil yang sekarang digunakan ke Bali, Jakarta, Pattaya dan tujuan-tujuan lain.
Hotel juga meningkat, Hilton sekarang memiliki 15,000 jaringan hotel diseluruh Dunia. Jaringan hotel Novotel sudah ada di Medan, Jambi, Lampung, Bandung, Yogya, Solo, Bali dan Menado. Dikembangkan sistem one day shopping – orang belanja di Kuala Lumpur, Singapore berangkat pagi pulang malam. Teman saya Danny Jozal ketika menjadi CEO BASF Asia di Jakarta, kalau mengadakan rapat berangkat sore dari Jakarta dengan Lutfansha duduk di first class sehingga bisa tidur, pagi sampai di Frankfurt, Jerman rapat, makan siang, presentasi sore harinya dan malam harinya pulang ke Jakarta pada hari yang sama – tidak perlu menginap di hotel, karena kabin first class pesawat sudah seperti bintang lima, menghemat waktu. Para pegolf Jepang bermain golf di Bali setiap akhir minggu, berangkat Jum’at sore sampai di Bali sabtu pagi, main golf 18 holes, malam hari menikmati lobster di Jimbaran, minggu pagi main golf lagi dan sore kembali ke Tokyo senin sudah bekerja kembali. Package golf tours (termasuk tiket pesawat, hotel dan makan) seperti itu lebih murah dari pada main di Tokyo.
Tidak kurang dari 100 juta orang Amerika berpergian setiap tahun antar negara bagian maupun antar negara dengan menggunakan moda transportasi mobil, kereta api, pesawat terbang maupun kapal laut.

3. Telekomunikasi.
Telekomunikasi ditandai dengan perkembangan satelit. Di wilayah GSO yang berada di atas khatulistiwa, sekarang ini terdapat 22,000 satelit berbagai negara dan kepentingan. Teknologi satelit inilah yang menghubungkan penduduk antar wilayah antar negara dengan jangkauan dan kecepatan yang luar biasa. Situs My Space.com misalnya sebuah situs yang didirikan oleh Tom Andersen, sarjana sastra Inggris dari Berkeley University bersama Christ De Wolfe pada bulan Juli 2004 telah dikunjungi satu milyar kali sehari hanya dalam kurun waktu 3 tahun. ”My Space” yang menjadi tempat nongkrong virtual terbesar dari raksasa hiburan seperti Janet Jackson atau Bob Dylan maupun 2.2 juta musisi independen, ribuan sineas amatir dan sekitar 8000 komedian.[1] My Space adalah situs yang tidak hanya mentayangkan data tertulis dan gambar namun juga video klip musik dan film. Ini adalah gerbong terakhir dari teknologi informasi yang sudah menghubungkan ”3C” : communication, content dan computer. Teknologi satelit juga memungkinkan sekarang ini semua orang men down load peta dunia yang bisa di zoom in hingga terlihat photo rumah diseluruh dunia. Jika anda mempunyai rumah di Melbourne, Australia atau di Cimelati, Sukabumi, dengan membayar US$200, anda bisa memantau kondisi lewat note book maupun desk computer dimanapun anda berada selama 24 jam penuh. Lewat satelit dengan memasang web cam di computer, anda bisa memantau sekretaris anda ketika anda sedang berlibur bermain ski di lake Tahoe di California. Melalui GPS, perusahaan taxi Blue Bird bisa memantau 7,500 armada taxinya di seluruh Indonesia dimanapun mereka berada.

4. Televisi
Revolusi disektor televisi telah mengubah entitas penonton televisi namun juga budaya penduduk dunia. Ketika World Cup di Jerman berlangsung tahun 2006, pada suatu malam pertandingan final, 18 Oktober 2006 pertandingan antara Perancis dan Italia, 2 milyar penduduk dunia mempunyai perilaku yang sama, memeloti, bersorak bersama dalam waktu yang bersamaan walaupun pada tempat dan waktu yang berbeda. Malam hari di Jerman, pukul 02.00 pagi di Indonesia, pukul 23.00 di Australia dan 07.00 pagi di Hawaii dan 11.00 di Los Angles. Dan tatkala ketika adu penalti dilakukan, 2 milyar orang bersorak riuh rendah dalam berbagai ragam budaya dan komunitas. Pada waktu itu sudah digunakan sistim digital dan High Definition TV yang memungkinkan orang untuk merecord program bahkan melalui pay tv meminta ditayangkan untuk dirinya sendiri berbagai variant program world cup mulai dari behind the screen, profile atlit maupun ulasan gol-gol terindah selama World Cup berlangsung. Model televisi berwarna gedem sebesar lemari yang untuk memindahkannya diperlukan 4 orang sudah digantikan dengan flat screen dan LCD yang lebih lebar layarnya, lebih jelas gambarnya, lebih nyaring suaranya dan lebih ringan bobotnya. Revolusi televisi telah merubah cara orang menonton televisi. Kalau sepuluh tahun yang lalu orang harus mendatangi dimana televisi berada di ruang duduk, ruang tamu atau ruang tidur. Sekarang televisi yang mendatangi penonton dalam wujud tv mobile, tv di tempat duduk pesawat terbang, mobil, kereta api, restauran, note book bahkan di HP sebagaimana dilakukan di Eropa ketika World Cup berlangsung tahun ini.

Tv sudah bisa dibawa kemana-mana. Akibatnya secara budaya manusia dimanapun didunia sudah tidak dapat dilepaskan dari pesawat televisi. Televisi sudah menjadi basic need manusia. Sistim digital juga akan merubah stasiun televisi penyiaran. Empat dekade dari sekarang stasiun televisi sudah tidak penting, yang penting adalah content karena siaran televisi bisa ditangkap dengan perangkat apapun. Lewat kombinasi communication dan computer, acara televisi berupa content bisa dipreteli dan re-package dalam segmen-segmen lima menitan, 10 menitan atau 15 menitan. Lewat sistim televisi on demand, para content provider akan bisa mendistribusikan (dengan bayaran tertentu) petilan-petilan acara tersebut. Orang bisa meminta untuk didown load-kan gol-gol terbaik selama World Cup atau home run New York Yangkee musim turnamen 2006 atau hole in one dan birdie dari Tiger Wood di US Master 2006 atau petikan lagu ”TTM” dan ”Buaya Darat” dari Ratu bahkan sebuah sketsa dari Extravaganza. Jadi kalau pikiran sedang kalut, perasaan lagi bete, stress, download saja sketsa Extravaganza pilihan, pastilah hilang segala persaan tertekan dan susah.

Demikianlah peta 4T Globalisasi, sampai dimana perkembangannya sektor demi sektor tidak akan pernah diketahui. Yang pasti Globalisasi berkat Reformasi 4T tersebut telah membuat manusia menjadi efiesien, lebih mudah mengakses, lebih murah membeli produk dan jasa, lebih membuka oppurtunity dan peluang bisnis dan usaha. Lebih membuat kehidupan menjadi lebih enak dilakoni, semuanya itu hanya dengan nilai harga yang makin lama makin murah.
Sebaliknya globalisasi tidak dapat lagi dihindari, kita masuk dalam putarannya atau terlempar keluar dan hidup dalam isolasi terasing dan sendiri. Mesti itu bukan suatu pilihan yang buruk.

Jakarta, 11 Oktober 2006
[1] Majalah Tempo Edisi 25 Sept – 01 Oktober 2006.

No comments: