Friday, February 16, 2007

2007

Dua hari lagi kita “memapaki” tahun 2007, meninggalkan tahun 2006 yang penuh penderitaan, kesulitan dan kesedihan. Bencana alam beberapa kali mengguncang. Mulai dari letusan Gunung Merapi – “yang berkat upaya” - Mbah Marijan urung meletus (?). Gempa Yogya yang menimbulkan ratusan korban dan Tsunami Pangandaran yang meluluh lantakan ratusan perahu dan rumah nelayan. Belum selesai korban bencana tuntas ditangani, berbagai bencana susulan datang melanda. Longsor dan banjir di Jawa Barat, Sulawesi Tengah, Papua, Aceh dan Kalimantan. Ditambah lagi bencana yang diperbuat oleh kecerobohan manusia di Porong dan Sidoarjo, yang tidak saja menenggelamkan 30 desa, namun mengurangi jalan tol Indonesia yang masih sedikit itu dengan paling tidak 30 km.[1]

Dari sisi ekonomi makro situasi amat membaik. Terlihat dari indikator inflasi yang ditekan dibawah tahun lalu. Bursa saham di BEJ terus menguat hingga mencapai angka rekord 1.850 rupiah di akhir tahun. Naik 55.22% selama tahun 2006. kurs rupiah yang tetap stabil diposisi 9.100 serta suku bunga Bank Indonesia yang berhasil ditekan hingga dibawah dua digit. (Posisi tingkat bunga yang sejak sepuluh tahun terakhir tidak pernah bisa dilakukan).

Meskipun demikian situasi ini tidak secara otomatis mempekuat sektor riel. Roda ekonomi riel tidak bergerak. Investasi masih dilakukan dalam bentuk portofolio dibursa yang bersifat jangka pendek dan se-waktu waktu dengan amat mudah di tarik balik. Berbagai pabrik yang labour intensif – ditutup atau direlokasi ke Vietnam, Thailand dan China yang lebih kompetitif. Pabrik tekstil tutup karena tidak berhasil memperbesar quota, sementara pabrik barang elektronik pailit karena kalah bersaing dengan barang selundupan atau produk murah buatan China. Pabrik yang capital intensif – sami mawon. Pabrik pupuk Asean Iskandar Muda di Aceh, yang diawal produksi menghasilkan 500.000 ton pupuk setahun, perlahan berhenti berproduksi karena konflik bersenjata diwilayah itu - setelah Tsunami - bahkan tutup total karena tidak mendapat pasokan gas alam. Akibat kesalahan manajemen perencanaan dan kelemahan negosiasi, sebagian besar dari produk gas alam yang merupakan energi murah itu malah sudah di booked oleh importir Negara industri Jepang, Korea dan Taiwan selama 30 tahun. Sementara industri berat dalam negri terpaksa harus membayar mahal untuk bahan bakar solar yang dari tahun ke tahun terus meneningkat.

Situasi yang sama terjadi pada industri dan rumah tangga yang menggantungkan diri pada pasokan listrik PLN. Lembaga BUMN itu yang 90% dari sumber tenaga listriknya menggunakan minyak solar, terpaksa menjual listrik amat mahal. Termasuk termahal di dunia. Cost per Kwh dengan bahan baker solar, PLN harus membayar 1600 rupiah. Padahal kalau menggunakan batu bara hanya 300 rupiah per Kwh. Berarti hampir enam kali lebih murah, dan puluhan trilyun rupiah setiap tahun yang bisa di hemat. Mahalnya listrik bukan saja menyebabkan puluhan pabrik menengah dan kecil ditutup, namun terjadi giliran pemadaman akut hampir diseluruh Indonesia.

Pariwisata salah satu alternatif penyumbang devisa terbesar juga masih terseok seok, setelah dihantam oleh Bom Bali satu dan dua serta larangan berkunjung ke Indonesia. Sementara Malaysia tahun ini meng claim telah mengundang 15 juta wisatawan, dan Singapura 12juta wisatawan (empat kali jumlah penduduknya), Indonesia yang berpenduduk 240 juta hanya mampu menarik 6 juta wisatawan saja.

Bahan pokok utama garam, gula dan beras masih diimport secara besar besaran untuk mencegah kelangkaan pasar. Ratusan juta dolar devisa terenggut. Musim kering panjang menyebabkan produktivitas petani menurun dan tingkat kemiskinan bertambah. Kabut asap yang diakibatkan oleh pembakaran hutan untuk tanaman industri oleh pengusaha yang tidak bertanggung jawab tidak saja menyebabkan puluhan penerbangan dibatalkan dan ribuan orang sesak nafas namun juga menimbulkan gelombang protes dan cercaan Negara Negara tetangga. Ikan ikan dilaut dicuri secara besar besaran yang mengakibatkan kerugian material Indonesia paling tidak 6 M dollar setahun dan menyebabkan Thailand dan Taiwan pencuri ikan terbesar bertambah sejahtera. Pembalakan hutan telah juga merambah hutan hutan lindung. Menyebabkan banjir dimana mana.

Korupsi makin merata dimana mana disetiap lini birokrasi khususnya di daerah daerah yang menikmati dana otonomi luar biasa. Meski beberapa mantan Mentri, Jendral Polisi, Gubernur, Bupati, DPRD dibekuk oleh KPK maupun Pengadilan Tipikor, masih banyak yang belum terungkap. Berbagai proyek pembangunan terhenti karena khawatir berhadapan dengan lembaga anti korupsi.

Korupsi bahkan juga terjadi pada proyek rehabilitasi daerah bencana di Aceh dan Jawa. (tega-teganya). Miras dan narkotika meningkat tajam. Jutaan anak sekolah sampai tingkat sekolah dasar menjadi korban. Meski berbagai pabrik ektasi terbesar didunia telah terungkap dan ditutup – dipekirakan puluhan pabrik illegal masih leluasa beroperasi untuk memenuhi pasokan gelap yang terus bertambah. CD dan DVD bajakan terus meningkat. Walau jutaan keeping sudah disita di Jakarta dan berbagai daerah seperti Medan, Pekanbaru dan Jambi, puluhan juta lainnya masih terus beredar menyebabkan industri musik terhambat dan nyaris terhenti.

Namun demikian Indonesia negeri tercinta ini, tidak juga berada dalam suasana gelap gulita dan kelam duka. Tidak semua diselimuti kesedihan. Sektor informal pedagang kecil dan usaha kecil menengah (UKM) tetap bertahan dan tumbuh meski menghadapi ancaman penggusuran dan penyitaan yang sewenang-wenang.

Agrobisnis meningkat karena harga di pasar dunia yang terus naik secara signifikan mengakibatkan nilai ekspor secara keseluruhan meningkat tajam.
Harga BBM bisa dikendalikan tanpa harus mensubsidi sehingga sangat membantu Perencanaan Pembangunan Dan Belanja Negara.

Perjudian ditumpas secara tuntas mulai dari kelas kakap sampai judi dikampung-kampung dilingkungan terbatas. Industri hiburan berkembang dengan lumayan. Wisata Kuliner yang murah meriah berlomba-lomba dengan pendirian pub dan resto mewah yang baru di hotel maupun pusat pertokoan. Yang paling terasa kemajuannya adalah media masa. Hampir setiap hari ditemukan tabloid atau majalah baru yang terbit. Pangsa iklan bertambah lumayan meningkat dibanding tahun sebelumnya. Media cetak radio dan TV memetik laba, paling besar TRANS TV misalnya yang tahun ini memperoleh revenue yang lumayan tinggi (Banzaiii !!).
Di akhir tahun 2006, United Bank of Switzerland (UBS) mengeluarkan buku tahunan “Look for 2007” berisi prediksi perekonomian dunia jangka panjang. Merilis hasil penelitian yang dilakukan oleh ratusan pakar ekonomi dan keuangan seluruh dunia menyimpulkan perekonomian Indonesia akan berada diperingkat ke tujuh di tahun 2025 setelah China, Amerika Serikat, Uni Eropa, India, Jepang dan Brazilia. Indonesia meningkat lagi di posisi kelima pada tahun 2050 setelah China, India, Amerika Serikat dan Uni Eropa. Sekarang ini peringkat Indonesia di posisi ke 32.

Peringkat ekonomi tersebut dihitung dari GDP per kapita dikali jumlah penduduk. Penduduk Indonesia pada saat itu berjumlah 400 juta dan GNP Perkapita US $12000. Semua itu dengan syarat bahwa tidak terjadi perubahan politik besar di Indonesia. Meski masih lama, perkiraan tersebut tentu membawa harapan. Ada seberkas sinar di ujung tahun 2006 dan di awal tahun 2007 bagi Indonesia.

Tahun 2007 jika proyek infra structure : jalan raya, pelabuhan, energi listrik dan energi batubara serta gas alam mulai direalisir, Insya Allah tingkat pertumbuhan ekonomi 6.5% dapat tercapai dan terus akan bertambah ditahun-tahun sesudahnya. Negara ini terlalu besar, terlalu luas, terlalu kaya sumber alamnya untuk terus menerus terpuruk.
Kita bersyukur memasuki 2007 dengan penuh harapan. Apalagi memasuki tahun 2007 diiringi dengan doa 200.000 calon jemaah Haji yang tahun ini sedang menjalankan Ibadah Haji Akbar. Insya Allah doa mereka diberkahi.

Saya teringat lagu yang bersama kita nyanyikan saat launching TRANS 7 dan Ultah TRANS TV :

Disana tempat lahir beta,
Dibuai dan dibesarkan bunda,
Tempat berlindung di hari tua,
Sampai akhir menutup mata.

Hidup Indonesia. Jayalah bangsaku, majulah negriku.
Merdeka !!!
Selamat Tahun Baru 2007.


Jakarta, 28 Desember 2006,
Ishadi S.K.

[1] . Sangat Ironis. Tatkala China meng-claim setiap tahun berhasil membangun 3.000 km jalan toll baru, Indonesia malah kehilangan 30 km jalan Toll akibat bencana lumpur di Porong dan Sidoarjo. Sementara pembangunan jalan toll baru yang sudah amat lama direncanakan masih merupakan wacana yang hanya ramai diperdebatkan, namun tidak pernah secara serius dikerjakan.

No comments: