Dua hari lagi kita “memapaki” tahun 2007, meninggalkan tahun 2006 yang penuh penderitaan, kesulitan dan kesedihan. Bencana alam beberapa kali mengguncang. Mulai dari letusan Gunung Merapi – “yang berkat upaya” - Mbah Marijan urung meletus (?). Gempa Yogya yang menimbulkan ratusan korban dan Tsunami Pangandaran yang meluluh lantakan ratusan perahu dan rumah nelayan. Belum selesai korban bencana tuntas ditangani, berbagai bencana susulan datang melanda. Longsor dan banjir di Jawa Barat, Sulawesi Tengah, Papua, Aceh dan Kalimantan. Ditambah lagi bencana yang diperbuat oleh kecerobohan manusia di Porong dan Sidoarjo, yang tidak saja menenggelamkan 30 desa, namun mengurangi jalan tol Indonesia yang masih sedikit itu dengan paling tidak 30 km.[1]
Dari sisi ekonomi makro situasi amat membaik. Terlihat dari indikator inflasi yang ditekan dibawah tahun lalu. Bursa saham di BEJ terus menguat hingga mencapai angka rekord 1.850 rupiah di akhir tahun. Naik 55.22% selama tahun 2006. kurs rupiah yang tetap stabil diposisi 9.100 serta suku bunga Bank Indonesia yang berhasil ditekan hingga dibawah dua digit. (Posisi tingkat bunga yang sejak sepuluh tahun terakhir tidak pernah bisa dilakukan).
Meskipun demikian situasi ini tidak secara otomatis mempekuat sektor riel. Roda ekonomi riel tidak bergerak. Investasi masih dilakukan dalam bentuk portofolio dibursa yang bersifat jangka pendek dan se-waktu waktu dengan amat mudah di tarik balik. Berbagai pabrik yang labour intensif – ditutup atau direlokasi ke Vietnam, Thailand dan China yang lebih kompetitif. Pabrik tekstil tutup karena tidak berhasil memperbesar quota, sementara pabrik barang elektronik pailit karena kalah bersaing dengan barang selundupan atau produk murah buatan China. Pabrik yang capital intensif – sami mawon. Pabrik pupuk Asean Iskandar Muda di Aceh, yang diawal produksi menghasilkan 500.000 ton pupuk setahun, perlahan berhenti berproduksi karena konflik bersenjata diwilayah itu - setelah Tsunami - bahkan tutup total karena tidak mendapat pasokan gas alam. Akibat kesalahan manajemen perencanaan dan kelemahan negosiasi, sebagian besar dari produk gas alam yang merupakan energi murah itu malah sudah di booked oleh importir Negara industri Jepang, Korea dan Taiwan selama 30 tahun. Sementara industri berat dalam negri terpaksa harus membayar mahal untuk bahan bakar solar yang dari tahun ke tahun terus meneningkat.
Situasi yang sama terjadi pada industri dan rumah tangga yang menggantungkan diri pada pasokan listrik PLN. Lembaga BUMN itu yang 90% dari sumber tenaga listriknya menggunakan minyak solar, terpaksa menjual listrik amat mahal. Termasuk termahal di dunia. Cost per Kwh dengan bahan baker solar, PLN harus membayar 1600 rupiah. Padahal kalau menggunakan batu bara hanya 300 rupiah per Kwh. Berarti hampir enam kali lebih murah, dan puluhan trilyun rupiah setiap tahun yang bisa di hemat. Mahalnya listrik bukan saja menyebabkan puluhan pabrik menengah dan kecil ditutup, namun terjadi giliran pemadaman akut hampir diseluruh Indonesia.
Pariwisata salah satu alternatif penyumbang devisa terbesar juga masih terseok seok, setelah dihantam oleh Bom Bali satu dan dua serta larangan berkunjung ke Indonesia. Sementara Malaysia tahun ini meng claim telah mengundang 15 juta wisatawan, dan Singapura 12juta wisatawan (empat kali jumlah penduduknya), Indonesia yang berpenduduk 240 juta hanya mampu menarik 6 juta wisatawan saja.
Bahan pokok utama garam, gula dan beras masih diimport secara besar besaran untuk mencegah kelangkaan pasar. Ratusan juta dolar devisa terenggut. Musim kering panjang menyebabkan produktivitas petani menurun dan tingkat kemiskinan bertambah. Kabut asap yang diakibatkan oleh pembakaran hutan untuk tanaman industri oleh pengusaha yang tidak bertanggung jawab tidak saja menyebabkan puluhan penerbangan dibatalkan dan ribuan orang sesak nafas namun juga menimbulkan gelombang protes dan cercaan Negara Negara tetangga. Ikan ikan dilaut dicuri secara besar besaran yang mengakibatkan kerugian material Indonesia paling tidak 6 M dollar setahun dan menyebabkan Thailand dan Taiwan pencuri ikan terbesar bertambah sejahtera. Pembalakan hutan telah juga merambah hutan hutan lindung. Menyebabkan banjir dimana mana.
Korupsi makin merata dimana mana disetiap lini birokrasi khususnya di daerah daerah yang menikmati dana otonomi luar biasa. Meski beberapa mantan Mentri, Jendral Polisi, Gubernur, Bupati, DPRD dibekuk oleh KPK maupun Pengadilan Tipikor, masih banyak yang belum terungkap. Berbagai proyek pembangunan terhenti karena khawatir berhadapan dengan lembaga anti korupsi.
Korupsi bahkan juga terjadi pada proyek rehabilitasi daerah bencana di Aceh dan Jawa. (tega-teganya). Miras dan narkotika meningkat tajam. Jutaan anak sekolah sampai tingkat sekolah dasar menjadi korban. Meski berbagai pabrik ektasi terbesar didunia telah terungkap dan ditutup – dipekirakan puluhan pabrik illegal masih leluasa beroperasi untuk memenuhi pasokan gelap yang terus bertambah. CD dan DVD bajakan terus meningkat. Walau jutaan keeping sudah disita di Jakarta dan berbagai daerah seperti Medan, Pekanbaru dan Jambi, puluhan juta lainnya masih terus beredar menyebabkan industri musik terhambat dan nyaris terhenti.
Namun demikian Indonesia negeri tercinta ini, tidak juga berada dalam suasana gelap gulita dan kelam duka. Tidak semua diselimuti kesedihan. Sektor informal pedagang kecil dan usaha kecil menengah (UKM) tetap bertahan dan tumbuh meski menghadapi ancaman penggusuran dan penyitaan yang sewenang-wenang.
Agrobisnis meningkat karena harga di pasar dunia yang terus naik secara signifikan mengakibatkan nilai ekspor secara keseluruhan meningkat tajam.
Harga BBM bisa dikendalikan tanpa harus mensubsidi sehingga sangat membantu Perencanaan Pembangunan Dan Belanja Negara.
Perjudian ditumpas secara tuntas mulai dari kelas kakap sampai judi dikampung-kampung dilingkungan terbatas. Industri hiburan berkembang dengan lumayan. Wisata Kuliner yang murah meriah berlomba-lomba dengan pendirian pub dan resto mewah yang baru di hotel maupun pusat pertokoan. Yang paling terasa kemajuannya adalah media masa. Hampir setiap hari ditemukan tabloid atau majalah baru yang terbit. Pangsa iklan bertambah lumayan meningkat dibanding tahun sebelumnya. Media cetak radio dan TV memetik laba, paling besar TRANS TV misalnya yang tahun ini memperoleh revenue yang lumayan tinggi (Banzaiii !!).
Di akhir tahun 2006, United Bank of Switzerland (UBS) mengeluarkan buku tahunan “Look for 2007” berisi prediksi perekonomian dunia jangka panjang. Merilis hasil penelitian yang dilakukan oleh ratusan pakar ekonomi dan keuangan seluruh dunia menyimpulkan perekonomian Indonesia akan berada diperingkat ke tujuh di tahun 2025 setelah China, Amerika Serikat, Uni Eropa, India, Jepang dan Brazilia. Indonesia meningkat lagi di posisi kelima pada tahun 2050 setelah China, India, Amerika Serikat dan Uni Eropa. Sekarang ini peringkat Indonesia di posisi ke 32.
Peringkat ekonomi tersebut dihitung dari GDP per kapita dikali jumlah penduduk. Penduduk Indonesia pada saat itu berjumlah 400 juta dan GNP Perkapita US $12000. Semua itu dengan syarat bahwa tidak terjadi perubahan politik besar di Indonesia. Meski masih lama, perkiraan tersebut tentu membawa harapan. Ada seberkas sinar di ujung tahun 2006 dan di awal tahun 2007 bagi Indonesia.
Tahun 2007 jika proyek infra structure : jalan raya, pelabuhan, energi listrik dan energi batubara serta gas alam mulai direalisir, Insya Allah tingkat pertumbuhan ekonomi 6.5% dapat tercapai dan terus akan bertambah ditahun-tahun sesudahnya. Negara ini terlalu besar, terlalu luas, terlalu kaya sumber alamnya untuk terus menerus terpuruk.
Kita bersyukur memasuki 2007 dengan penuh harapan. Apalagi memasuki tahun 2007 diiringi dengan doa 200.000 calon jemaah Haji yang tahun ini sedang menjalankan Ibadah Haji Akbar. Insya Allah doa mereka diberkahi.
Saya teringat lagu yang bersama kita nyanyikan saat launching TRANS 7 dan Ultah TRANS TV :
Disana tempat lahir beta,
Dibuai dan dibesarkan bunda,
Tempat berlindung di hari tua,
Sampai akhir menutup mata.
Hidup Indonesia. Jayalah bangsaku, majulah negriku.
Merdeka !!!
Selamat Tahun Baru 2007.
Jakarta, 28 Desember 2006,
Ishadi S.K.
[1] . Sangat Ironis. Tatkala China meng-claim setiap tahun berhasil membangun 3.000 km jalan toll baru, Indonesia malah kehilangan 30 km jalan Toll akibat bencana lumpur di Porong dan Sidoarjo. Sementara pembangunan jalan toll baru yang sudah amat lama direncanakan masih merupakan wacana yang hanya ramai diperdebatkan, namun tidak pernah secara serius dikerjakan.
Friday, February 16, 2007
Handphone
Hari minggu 17 Desember lalu, saya ngobrol dengan Wahyu Wijayadi Direktur Sales and Marketing Indosat, sebelum live blocking time “Undian Point++ Indosat”. Bahasan berkisar fenomena Hand Phone ditengah gelombang revolusi Informasi. Hand Phone adalah inovasi terakhir yang merubah semua paradigma tantang cara berkomunikasi individual manusia yang mungkin - jika mengikuti alur teori Toffler - bisa jadi merupakan gelombang ke empat dari peradaban manusia.[1]
Cirinya sudah terlihat. HP dimulai dikenal sejak tahun 1992. Tahun 2002 hanya dalam waktu sepuluh tahun jumlah HP diseluruh dunia mencapai satu milyar. Tahun 2005 tiga tahun setelah itu, jumlah HP mencapai dua milyar. Tahun 2007 dunia memasuki era pengguna HP 3 milyar buah. Diperlukan sepuluh tahun untuk mencapai angka satu milyar, tiga tahun untuk dua milyar dan hanya dalam satu setengah tahun menjadi tiga milyar buah. Sungguh fenomenal. Dimanapun dan oleh siapapun HP digunakan. Mulai dari Presiden, Menteri, Gubernur, CEO sampai supir dan pembantu rumah tangga.
HP digunakan secara aktif nyaris 24 jam sehari. DI Mall, di Terminal Pesawat, Stasiun Kereta Api dan Halte Busway. Di kantor dan dirumah, bahkan sampai ke toilet dan kamar mandi. Satu satu nya tempat HP dilarang digunakan adalah dalam pesawat terbang, karena akan sangat berbahaya bagi penerbangan. (di Inggris pengguna HP dalam pesawat bisa dikenakan hukuman enam bulan kurungan). Dalam sebuah sesi pertemuan ITU (International Communication Union) di Hongkong minggu lalu, seorang pakar Marketing mengatakan ada lima hal yang menyebabkan HP merupakan inovasi strategis terpenting yang akan merubah tataran sosial, politik, dan ekonomi dunia di abad ke 21 ini :
1. HP adalah perangkat media massa yang individual. Artinya meskipun penggunaannya sangat individual, namun pada saat yang sama bisa di sampaikan pesan secara massal.
2. HP merupakan perangkat yang selalu on dan embeded (melekat) dengan si pemakai selama 24 jam terus menerus dimanapun dan kapan pun.
3. HP khususnya 3 G (baca three G), memungkinkan praktis semua keperluan berkomunikasi dan berbisnis dilakukan. Mulai dari transaksi keuangan, transaksi barang dan jasa hingga perekaman audio video dan menonton tv on demand. HP juga bisa digunakan untuk perbuatan kriminal. Pemerasan, ancaman hingga bom triger.
4. HP telah menjadi lahan bisnis yang amat menjanjikan. Pulsa, vendor berbagai pelayanan jasa mulai ring-tone, audio video hingga pembelian dan penjualan perangkat HP itu sendiri.
5. HP berkembang amat cepat dalam model, type, vitur dan kapasitasnya.
Demikian besar keterlibatan HP dalam kehidupan manusia sehingga disebut sebagai ”the remote control of human life”.
Saya melihat HP sebagai bagian dari siklus peradaban manusia dari zaman ke zaman untuk memenuhi kebutuhan basis manusia – untuk saling berkomunikasi. Mengikuti pandangan Toffler tentang siklus peradaban manusia, di era tradisional – komunikasi dilakukan dengan cara tatap muka (face to face communication) paling banter lewat bantuan kentongan, bedug dan sinyal fisik. Di era industri – komunikasi dilakukan dengan bantuan perlengkapan audio dan video mekanik – analog. Di era informasi perangkat komunikasi umat manusia telah menggunakan sistim digital satellite dan fiber optic. HP terlahir di era ini.
Irving Fang, Ph.D., Guru Besar Universitas Minnesota, specializes in communication history and broadcast journalism, menyebut enam tahap revolusi Komunikasi Massa.[2]:
1) Revolusi Cara Menulis (writing): Revolusi dalam cara orang menulis dan media penulisan. Menulis diatas genteng (clay), kertas dari bahan papyrus di Mesir (300 SM) sampai dengan penemuan huruf alphabet Latin, Arab, China, Jepang, India, Thailand, Jawa, Bali, dan lain-lain.
2) Revolusi Percetakan : Diawali di zaman renaissance – penemuan alat cetak sederhana, penemuan mesin cetak oleh Guttenberg sampai dengan budaya baca buku, pendirian pusat ilmu pengetahuan, universitas, sistim pos sampai penerbitan buku.
3) Revolusi Mass Media: Lahirnya media massa, radio, film, TV, iklan di media cetak, radio, TV dan film.
4) Revolusi Entertainment: Perkembangan segmented media, buku-buku komik, novel, audio recording, film serta video recording, perkembangan perangkat audio (walkman), video, hiburan-hiburan off air.
5) Revolusi Toolshed Home: Semua kegiatan bisa dilakukan di rumah. Home Video, internet access, transaksi perbankan dan belanja barang dan jasa dari rumah.
6) The Highway Revolution : Berkembangnya jalan lintas, tol dan jalan raya, informasi lewalt fiber optic maupun satellite.
Menurut Irvin Fang, HP merupakan produk akhir dari ke-enam Revolusi ini.
Karena begitu besar pangsa pasarnya, 3 Milyar di tahun 2007 dan 4 Milyar buah di tahun 2008, bisnis perangkat keras HP mempunyai skala ekonomi yang sangat besar. Apalagi dipasar hanya ada tiga merk utama : Nokia, Ericsson dan Samsung. Nokia sudah bergabung dengan Siemens yang sebelumnya juga memproduksi HP. Sedangkan Ericsson bergabung dengan Sony - perangkat hardware electronic yang sebelumnya juga memproduksi HP. Penggabungan itu menyebabkan makin besar dana yang bisa dialokasikan untuk melakukan research and development agar konsumen semakin lama semakin dimanjakan dengan berbagai temuan baru untuk fungsi serta fitur yang makin lama makin canggih dan lengkap serta “mahal” sehingga ada berbagai kelas HP. Ada HP yang canggih dengan fitur yang lengkap, ada yang easy to use, ada HP yang merupakan bagian dari fashion yang exclusive (Vertu) namun juga ada HP “sejuta umat” (Nokia 510).
Yang belum diciptakan adalah HP yang bisa dipakai sambil mandi (berendam).
Sementara itu karena ada dua system vendor yang digunakan : CDMA dan GSM, produsen berlomba meluncurkan dual mode phone: CDMA dan GSM (Samsung SCH-W 569). Demikianlah HP sudah menjadi bagian dari perangkat yang melekat di badan seperti baju - Enggak bawa HP bagaikan berjalan diluar rumah tanpa memakai baju.
HP menjadi perangkat komunikasi serbaguna, mulai dari kalkulator, transaksi bank, pesan tiket pesawat, belanja sampai perangkat memijit kalau anda pegal-pegal.
Caranya ? Ya HP saja “Mbak Urut”. Hehehe……
Jakarta, 28 Desember 2006
Ishadi S.K.
[1] Alvin Toffler dalam bukunya “The Third Wave” (1970), membagi revolosi peradaban manusia dalam tiga gelombang. Revolusi Pertanian (4000 sm sd 1470 M), Gelombang kedua Revolusi Industri - diawali dari temuan mesin uap oleh James Watt (1970 sd 1970), dan Revolusi Informasi (1970 - ).
[2] Irving Fang, “A History of Mass Communication, Six Information Revolutions”, Newton M.A.: Focal Press,1997.
Cirinya sudah terlihat. HP dimulai dikenal sejak tahun 1992. Tahun 2002 hanya dalam waktu sepuluh tahun jumlah HP diseluruh dunia mencapai satu milyar. Tahun 2005 tiga tahun setelah itu, jumlah HP mencapai dua milyar. Tahun 2007 dunia memasuki era pengguna HP 3 milyar buah. Diperlukan sepuluh tahun untuk mencapai angka satu milyar, tiga tahun untuk dua milyar dan hanya dalam satu setengah tahun menjadi tiga milyar buah. Sungguh fenomenal. Dimanapun dan oleh siapapun HP digunakan. Mulai dari Presiden, Menteri, Gubernur, CEO sampai supir dan pembantu rumah tangga.
HP digunakan secara aktif nyaris 24 jam sehari. DI Mall, di Terminal Pesawat, Stasiun Kereta Api dan Halte Busway. Di kantor dan dirumah, bahkan sampai ke toilet dan kamar mandi. Satu satu nya tempat HP dilarang digunakan adalah dalam pesawat terbang, karena akan sangat berbahaya bagi penerbangan. (di Inggris pengguna HP dalam pesawat bisa dikenakan hukuman enam bulan kurungan). Dalam sebuah sesi pertemuan ITU (International Communication Union) di Hongkong minggu lalu, seorang pakar Marketing mengatakan ada lima hal yang menyebabkan HP merupakan inovasi strategis terpenting yang akan merubah tataran sosial, politik, dan ekonomi dunia di abad ke 21 ini :
1. HP adalah perangkat media massa yang individual. Artinya meskipun penggunaannya sangat individual, namun pada saat yang sama bisa di sampaikan pesan secara massal.
2. HP merupakan perangkat yang selalu on dan embeded (melekat) dengan si pemakai selama 24 jam terus menerus dimanapun dan kapan pun.
3. HP khususnya 3 G (baca three G), memungkinkan praktis semua keperluan berkomunikasi dan berbisnis dilakukan. Mulai dari transaksi keuangan, transaksi barang dan jasa hingga perekaman audio video dan menonton tv on demand. HP juga bisa digunakan untuk perbuatan kriminal. Pemerasan, ancaman hingga bom triger.
4. HP telah menjadi lahan bisnis yang amat menjanjikan. Pulsa, vendor berbagai pelayanan jasa mulai ring-tone, audio video hingga pembelian dan penjualan perangkat HP itu sendiri.
5. HP berkembang amat cepat dalam model, type, vitur dan kapasitasnya.
Demikian besar keterlibatan HP dalam kehidupan manusia sehingga disebut sebagai ”the remote control of human life”.
Saya melihat HP sebagai bagian dari siklus peradaban manusia dari zaman ke zaman untuk memenuhi kebutuhan basis manusia – untuk saling berkomunikasi. Mengikuti pandangan Toffler tentang siklus peradaban manusia, di era tradisional – komunikasi dilakukan dengan cara tatap muka (face to face communication) paling banter lewat bantuan kentongan, bedug dan sinyal fisik. Di era industri – komunikasi dilakukan dengan bantuan perlengkapan audio dan video mekanik – analog. Di era informasi perangkat komunikasi umat manusia telah menggunakan sistim digital satellite dan fiber optic. HP terlahir di era ini.
Irving Fang, Ph.D., Guru Besar Universitas Minnesota, specializes in communication history and broadcast journalism, menyebut enam tahap revolusi Komunikasi Massa.[2]:
1) Revolusi Cara Menulis (writing): Revolusi dalam cara orang menulis dan media penulisan. Menulis diatas genteng (clay), kertas dari bahan papyrus di Mesir (300 SM) sampai dengan penemuan huruf alphabet Latin, Arab, China, Jepang, India, Thailand, Jawa, Bali, dan lain-lain.
2) Revolusi Percetakan : Diawali di zaman renaissance – penemuan alat cetak sederhana, penemuan mesin cetak oleh Guttenberg sampai dengan budaya baca buku, pendirian pusat ilmu pengetahuan, universitas, sistim pos sampai penerbitan buku.
3) Revolusi Mass Media: Lahirnya media massa, radio, film, TV, iklan di media cetak, radio, TV dan film.
4) Revolusi Entertainment: Perkembangan segmented media, buku-buku komik, novel, audio recording, film serta video recording, perkembangan perangkat audio (walkman), video, hiburan-hiburan off air.
5) Revolusi Toolshed Home: Semua kegiatan bisa dilakukan di rumah. Home Video, internet access, transaksi perbankan dan belanja barang dan jasa dari rumah.
6) The Highway Revolution : Berkembangnya jalan lintas, tol dan jalan raya, informasi lewalt fiber optic maupun satellite.
Menurut Irvin Fang, HP merupakan produk akhir dari ke-enam Revolusi ini.
Karena begitu besar pangsa pasarnya, 3 Milyar di tahun 2007 dan 4 Milyar buah di tahun 2008, bisnis perangkat keras HP mempunyai skala ekonomi yang sangat besar. Apalagi dipasar hanya ada tiga merk utama : Nokia, Ericsson dan Samsung. Nokia sudah bergabung dengan Siemens yang sebelumnya juga memproduksi HP. Sedangkan Ericsson bergabung dengan Sony - perangkat hardware electronic yang sebelumnya juga memproduksi HP. Penggabungan itu menyebabkan makin besar dana yang bisa dialokasikan untuk melakukan research and development agar konsumen semakin lama semakin dimanjakan dengan berbagai temuan baru untuk fungsi serta fitur yang makin lama makin canggih dan lengkap serta “mahal” sehingga ada berbagai kelas HP. Ada HP yang canggih dengan fitur yang lengkap, ada yang easy to use, ada HP yang merupakan bagian dari fashion yang exclusive (Vertu) namun juga ada HP “sejuta umat” (Nokia 510).
Yang belum diciptakan adalah HP yang bisa dipakai sambil mandi (berendam).
Sementara itu karena ada dua system vendor yang digunakan : CDMA dan GSM, produsen berlomba meluncurkan dual mode phone: CDMA dan GSM (Samsung SCH-W 569). Demikianlah HP sudah menjadi bagian dari perangkat yang melekat di badan seperti baju - Enggak bawa HP bagaikan berjalan diluar rumah tanpa memakai baju.
HP menjadi perangkat komunikasi serbaguna, mulai dari kalkulator, transaksi bank, pesan tiket pesawat, belanja sampai perangkat memijit kalau anda pegal-pegal.
Caranya ? Ya HP saja “Mbak Urut”. Hehehe……
Jakarta, 28 Desember 2006
Ishadi S.K.
[1] Alvin Toffler dalam bukunya “The Third Wave” (1970), membagi revolosi peradaban manusia dalam tiga gelombang. Revolusi Pertanian (4000 sm sd 1470 M), Gelombang kedua Revolusi Industri - diawali dari temuan mesin uap oleh James Watt (1970 sd 1970), dan Revolusi Informasi (1970 - ).
[2] Irving Fang, “A History of Mass Communication, Six Information Revolutions”, Newton M.A.: Focal Press,1997.
MEASAT
Senin, 11 Desember pagi dengan pesawat Malaysian Airlines MH-710, saya berangkat ke Kuala Lumpur atas undangan Astro untuk menyaksikan launching (peluncuran) Satelit MEASAT-3. Ada 40 orang dari Indonesia yang diundang, diantaranya dari TV Station, Kabel TV, Dirjen Postel, Advertising Agencies, Pemilik Operator Telephone Cellular dan KPI. Kami semua ditempatkan di hotel Mandarin, bersebelahan dengan KLCC – tempat acara launching dilakukan.
Dari Pihak Astro bersama kami ikut serta Nelia Molato Sutrisno CEO PT. Direct Vision – perusahaan yang mengelola hardware dan pelanggan Astro di Indonesia dan Dewi Fadjar (DF), COO PT. Adikarya Visi yang mengelola content Astro Indonesia – DF bersama saya di jajaran Direksi TPI (tahun 1996 – 1998).
Astro adalah perusahaan TV cable Malaysia yang didirikan pada tahun 1996. Merupakan salah satu dari tiga perusahaan milik Ananda Krishna seorang Taipan Malaysia. Dua perusahaan lainnya Measat Satellite Systems Sdn. Bhd. yang memiliki satelit Measat 1 dan 2, didirikan 13 tahun yang lalu dan Maxis System Sdn. Bhd. yang bergerak dibidang telekomunikasi didirikan enam tahun yang lalu. Ananda Krishna menggandeng Pemerintah Malaysia untuk mendirikan perusahaannya. Astro adalah perusahaan TV Cable Malaysia dan pertama di Asia yang menyalurkan tidak hanya 60 program televisi namun juga saluran pay per view (penonton bisa minta program apapun pada hari dan jam yang diinginkan dengan cara membayar per program tayangan).
Ketiga perusahaan itu Measat, Astro dan Maxis merupakan bagian dari program Malaysia masuk dalam Gelombang ke-tiga Revolusi Informasi. Sekarang ini, Astro misalnya mempunyai 2 juta pelanggan di seluruh Malaysia yang masing-masing membayar 30 Ringgit Malaysia per bulan. Astro kini mengembangkan diri ke India, Brunai Darussalam dan Indonesia.
Dibawah Mahathir, Malaysia berkembang pesat khususnya dalam konsep percepatan pembangunan ekonomi lewat Revolusi Informasi. Mahathir pada tahun 1989 membangun sebuah kawasan seluas 750 Km2 yang terhubungkan dengan Cyber System memanjang dari KLCC Twin Tower (ditengah Kota Lama Kuala Lumpur) sampai dengan Kuala Lumpur International Airport yang baru. Diantara kedua wilayah itu didirikan dua kota baru. Yang pertama Putra Jaya – Pusat Pemerintahan dan Birokrasi serta Cyber City – Pusat perdagangan dan bisnis industri IT. Visi Mahathir adalah “membangun elektronik government” yaitu pemerintahan yang sepenuhnya dijalankan oleh IT untuk melayani seluruh penduduk dan kalangan bisnis. Proyek yang awalnya dinilai sangat ambisius itu dipersiapkan dengan baik. Dimulai dengan pertemuan di Stanford University Amerika Serikat pada bulan Januari 1989 antar delegasi Pemerintah Malaysia dengan sebuah panel ahli yang terdiri dari Bill Gates (CEO Microsoft), James Barcksdale (CEO Netscape), Stan Shih (CEO Acer), Louis Gertsner (CEO IBM), Alvin Toffel dan Kehinchi Omahe untuk menyiapkan blue print bagi pembangunan sebuah Malaysia Multi Media Super Coridor.[1] Sistim Satelit Measat dan Astro Cable adalah bagian dari proyek besar ini. Indonesia sebetulnya telah mulai dengan Sistim Komunikasi Satelit Domestik Palapa (SKSD Palapa), sejak 1976. Tiga belas tahun sebelum gagasan Mahathir di jalankan. Namun berbeda dengan Mahathir, Presiden Suharto gagal untuk mendorong momentum itu untuk membangun sistim informasi terintegrasi dilingkungan birokrasi dan usaha swasta. Nampaknya perseteruan yang keras antara kelompok ITB dibawah Iskandar Alisjahbana – yang mendorong IT dengan kelompok Wijoyo Nitisastro – yang cenderung memperkuat struktur birokrasi lewat sistim konvensional dan top down, menyebabkan Suharto tidak segera memanfaatkan momentum Palapa.
Kembali ke Measat. Satelit yang diluncurkan adalah satelit Measat-3 yang menggantikan satelit Measat-2 yang habis masa edarnya tahun ini. Satelit tersebut diluncurkan di Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan. Satelit Boeing 601 HP itu termasuk satelit berkapasitas besar karena memuat 24 transponder C-Band dan 24 transponder Q-Band. Meliput seluruh kawasan Asia Pacific, Timur Tengah, Afrika Timur, Australia, Malaysia, Indonesia dan Asia Selatan.
Dihari peluncuran 12 Desember 2006, sekitar 1000 an orang umumnya klien Measat maupun Astro dan Maxis, orang-orang media, pemasang iklan, pengusaha telephone seluler dan fix telephone juga hadir ditempat ini. Gedung sebesar Plenary Hall di Balai Sidang tersebut dihias bagus sekali – ada tiga layar LCD dan ada bendera Malaysia seluas dinding yang dipasang di dinding kiri dan kanan. Ada 20 an kursi untuk VVIP, sedang yang lainnya di meja dan kursi bar yang artistik disediakan untuk sebagian tamu VIP. Dua jam sebelum acara tamu telah datang untuk menikmati sarapan pagi diiringi oleh musik Quartet classic live. Lampu dan set dekor dengan tema futuristic yang remang-remang namun Indah menghiasi seluruh ruangan. Pukul 07.15 pagi Wakil Perdana Menteri Malaysia Seri Moh. Datuk Najib, Putra PM Malaysia Tun Razak datang dan acara dimulai. Sambutan pertama oleh Tun H. Mohamad Bin Umar, Direktur Utama Measat Satellite System Sdn. Bhd. Ia mengatakan : “Measat-3 akan meningkatkan kapasitas satelit Malaysia tiga kali lipat. Kemampuan Q-Band nya memungkinkan system digitalization broadcasting free to air maupun cable TV Malaysia, termasuk High Definition TV (HDTV), Video on Demand (VOD) dan Internet Protocol Television (IP TV)”. Dilanjutkan dengan sambutan oleh Wakil Perdana Menteri. Ia mengatakan : “Satelit ini akan mempercepat perkembangan ‘a knowledge based economy Malaysia’ ”.
Tujuh menit sebelum count down tiga layar besar LCD maupun puluhan TV plasma melaporkan dari Baikonur tentang persiapan akhir peluncuran satelit Measat-3. Tiga puluh detik sebelum countdown semua lampu dipadamkan, seluruh gedung diramaikan oleh kreasi lighting, kembang api dan audio yang gemuruh. Setelah itu countdown dan satelit meluncur ke angkasa diiringi oleh lagu kebangsaan Malaysia. Seluruh hadirin bertepuk tangan riuh rendah, terpesona oleh suasana waktu itu. Ade Armando, Pimpinan KPI berkata kepada saya : “saya bukan orang Malaysia tapi saya merasa kagum dan terharu melihat acara ini”. Saya membalas : “itulah sebabnya jangan industri televisi di Indonesia ini dihalang-halangi kemajuannya. Yang anda lihat ini adalah pendekatan dan promosi bisnis, meskipun tujuan akhirnya adalah kepentingan Negara Malaysia”.
Astro yang menyelenggarakan event ini adalah perusahaan swasta besar di Malaysia. Dari pelanggannya saja di Malaysia, Astro memperoleh revenue tetap sebesar 3.5 T Rupiah per tahun – tiga kali lebih besar dari revenue RCTI tahun ini. Saya jadi teringat kilas balik acara peluncuran satelit Telkom di Cibinong pertengahan November 2005 dilakukan pada pukul 07.00 pagi di stasiun bumi Telkom Cibinong. Dipasang tenda besar di halaman. Sekitar 500 hadirin datang – sebagian besar adalah anggota DPR, Pejabat Telkom, Dept. Infokom serta aparat birokrasi pusat maupun daerah. Ada sebuah layar lebar yang gambarnya remang-remang menceritakan detik-detik sebelum peluncuran satelit. Suara countdown yang tidak jelas dan acara yang sangat formal. Bahkan ketika Presiden SBY berpidato microphone mati, terpaksa Presiden menggunakan microphone cadangan yang suaranya sayup-sayup tak sampai.
Saya sudah beberapa kali menyaksikan peluncuran satelit Telkom maupun Palapa dan selalu suasananya sama – formal dan birokratis.
Peluncuran Satelit Measat-3 menunjukkan perbedaan jelas diantara kita dan Malaysia. Malaysia sudah masuk dalam era Malaysia in corporated. Dimana pemerintah telah menyatu dengan usaha swasta. Mahathir berhasil merubah attitude para birokrat Malaysia dengan berulang-lang mengatakan : “Gaji anda diperoleh dari private sector, yakni dari pajak yang mereka bayarkan ke Negara. Jadi kalau anda membantu private sector – itu berarti anda membantu diri anda sendiri”.
Sementara Indonesia masih berada di era Malaysia 15 tahun lalu. Waktu itu kondisi Malaysia digambarkan oleh Mahathir sebagai : “Pemerintah waktu itu merasa sebagai musuh dari private sector. Dan sebaliknya sektor swasta melihat regulasi-regulasinya di buat Pemerintah sebagai hambatan bagi usaha bisnis mereka”.[2]
Model tata acara peluncuran satelit kedua Negara mencerminkan perbedaan kondisi dan situasi hubungan pemerintah dan bisnis kedua Negara.
Saya mimpikan pada acara peluncuran satelit berikutnya lima tahun lagi acara seluruhnya dirancang dan diselenggarakan oleh Trans Corp. Dijamin akan jauh lebih semarak, lebih bagus, lebih meriah dan lebih mengharukan katimbang peluncuran Measat-3. Dijamin lebih dahsyat dari Penta5. Hehehe…….
Jakarta, 27 Desember 2007
Ishadi S.K.
[1] Keberhasilan Pemerintah Malysia menyusun team ahli yang terdiri dari tokoh paling berpengaruh dalam praktek Information Techonolgy Dunia sekaran ini – dimungkinkan oleh pendekatan langsung dan pribadi Dr. Mahatir Mohammad kepada mereka lewat lobby intensif di Malaysia maupun Amerika Serikat. Khususnya kemampuan Dr Mahatir untuk menjual Malaysia dan menjadi contoh sebuah Negara berkembang yang akan melakukan lompatan ekonomi lewat MSC, telah menyebabkan tokoh-tokoh IT itu tertarik, ikut serta memberi arahan blue print dan bahkan membantu program pendidikan dan latihan serta menyumbang perangkat teknologi terbaru untuk proyek MSC ini. Lihat www.mdc.my/flagship/.index.html.
[2] Hajrudin Somun : “Mahathir The Secret of the Malaysian Success”. Pelanduk Publications (M) Sdn Bhd. Malaysia 2003.
Dari Pihak Astro bersama kami ikut serta Nelia Molato Sutrisno CEO PT. Direct Vision – perusahaan yang mengelola hardware dan pelanggan Astro di Indonesia dan Dewi Fadjar (DF), COO PT. Adikarya Visi yang mengelola content Astro Indonesia – DF bersama saya di jajaran Direksi TPI (tahun 1996 – 1998).
Astro adalah perusahaan TV cable Malaysia yang didirikan pada tahun 1996. Merupakan salah satu dari tiga perusahaan milik Ananda Krishna seorang Taipan Malaysia. Dua perusahaan lainnya Measat Satellite Systems Sdn. Bhd. yang memiliki satelit Measat 1 dan 2, didirikan 13 tahun yang lalu dan Maxis System Sdn. Bhd. yang bergerak dibidang telekomunikasi didirikan enam tahun yang lalu. Ananda Krishna menggandeng Pemerintah Malaysia untuk mendirikan perusahaannya. Astro adalah perusahaan TV Cable Malaysia dan pertama di Asia yang menyalurkan tidak hanya 60 program televisi namun juga saluran pay per view (penonton bisa minta program apapun pada hari dan jam yang diinginkan dengan cara membayar per program tayangan).
Ketiga perusahaan itu Measat, Astro dan Maxis merupakan bagian dari program Malaysia masuk dalam Gelombang ke-tiga Revolusi Informasi. Sekarang ini, Astro misalnya mempunyai 2 juta pelanggan di seluruh Malaysia yang masing-masing membayar 30 Ringgit Malaysia per bulan. Astro kini mengembangkan diri ke India, Brunai Darussalam dan Indonesia.
Dibawah Mahathir, Malaysia berkembang pesat khususnya dalam konsep percepatan pembangunan ekonomi lewat Revolusi Informasi. Mahathir pada tahun 1989 membangun sebuah kawasan seluas 750 Km2 yang terhubungkan dengan Cyber System memanjang dari KLCC Twin Tower (ditengah Kota Lama Kuala Lumpur) sampai dengan Kuala Lumpur International Airport yang baru. Diantara kedua wilayah itu didirikan dua kota baru. Yang pertama Putra Jaya – Pusat Pemerintahan dan Birokrasi serta Cyber City – Pusat perdagangan dan bisnis industri IT. Visi Mahathir adalah “membangun elektronik government” yaitu pemerintahan yang sepenuhnya dijalankan oleh IT untuk melayani seluruh penduduk dan kalangan bisnis. Proyek yang awalnya dinilai sangat ambisius itu dipersiapkan dengan baik. Dimulai dengan pertemuan di Stanford University Amerika Serikat pada bulan Januari 1989 antar delegasi Pemerintah Malaysia dengan sebuah panel ahli yang terdiri dari Bill Gates (CEO Microsoft), James Barcksdale (CEO Netscape), Stan Shih (CEO Acer), Louis Gertsner (CEO IBM), Alvin Toffel dan Kehinchi Omahe untuk menyiapkan blue print bagi pembangunan sebuah Malaysia Multi Media Super Coridor.[1] Sistim Satelit Measat dan Astro Cable adalah bagian dari proyek besar ini. Indonesia sebetulnya telah mulai dengan Sistim Komunikasi Satelit Domestik Palapa (SKSD Palapa), sejak 1976. Tiga belas tahun sebelum gagasan Mahathir di jalankan. Namun berbeda dengan Mahathir, Presiden Suharto gagal untuk mendorong momentum itu untuk membangun sistim informasi terintegrasi dilingkungan birokrasi dan usaha swasta. Nampaknya perseteruan yang keras antara kelompok ITB dibawah Iskandar Alisjahbana – yang mendorong IT dengan kelompok Wijoyo Nitisastro – yang cenderung memperkuat struktur birokrasi lewat sistim konvensional dan top down, menyebabkan Suharto tidak segera memanfaatkan momentum Palapa.
Kembali ke Measat. Satelit yang diluncurkan adalah satelit Measat-3 yang menggantikan satelit Measat-2 yang habis masa edarnya tahun ini. Satelit tersebut diluncurkan di Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan. Satelit Boeing 601 HP itu termasuk satelit berkapasitas besar karena memuat 24 transponder C-Band dan 24 transponder Q-Band. Meliput seluruh kawasan Asia Pacific, Timur Tengah, Afrika Timur, Australia, Malaysia, Indonesia dan Asia Selatan.
Dihari peluncuran 12 Desember 2006, sekitar 1000 an orang umumnya klien Measat maupun Astro dan Maxis, orang-orang media, pemasang iklan, pengusaha telephone seluler dan fix telephone juga hadir ditempat ini. Gedung sebesar Plenary Hall di Balai Sidang tersebut dihias bagus sekali – ada tiga layar LCD dan ada bendera Malaysia seluas dinding yang dipasang di dinding kiri dan kanan. Ada 20 an kursi untuk VVIP, sedang yang lainnya di meja dan kursi bar yang artistik disediakan untuk sebagian tamu VIP. Dua jam sebelum acara tamu telah datang untuk menikmati sarapan pagi diiringi oleh musik Quartet classic live. Lampu dan set dekor dengan tema futuristic yang remang-remang namun Indah menghiasi seluruh ruangan. Pukul 07.15 pagi Wakil Perdana Menteri Malaysia Seri Moh. Datuk Najib, Putra PM Malaysia Tun Razak datang dan acara dimulai. Sambutan pertama oleh Tun H. Mohamad Bin Umar, Direktur Utama Measat Satellite System Sdn. Bhd. Ia mengatakan : “Measat-3 akan meningkatkan kapasitas satelit Malaysia tiga kali lipat. Kemampuan Q-Band nya memungkinkan system digitalization broadcasting free to air maupun cable TV Malaysia, termasuk High Definition TV (HDTV), Video on Demand (VOD) dan Internet Protocol Television (IP TV)”. Dilanjutkan dengan sambutan oleh Wakil Perdana Menteri. Ia mengatakan : “Satelit ini akan mempercepat perkembangan ‘a knowledge based economy Malaysia’ ”.
Tujuh menit sebelum count down tiga layar besar LCD maupun puluhan TV plasma melaporkan dari Baikonur tentang persiapan akhir peluncuran satelit Measat-3. Tiga puluh detik sebelum countdown semua lampu dipadamkan, seluruh gedung diramaikan oleh kreasi lighting, kembang api dan audio yang gemuruh. Setelah itu countdown dan satelit meluncur ke angkasa diiringi oleh lagu kebangsaan Malaysia. Seluruh hadirin bertepuk tangan riuh rendah, terpesona oleh suasana waktu itu. Ade Armando, Pimpinan KPI berkata kepada saya : “saya bukan orang Malaysia tapi saya merasa kagum dan terharu melihat acara ini”. Saya membalas : “itulah sebabnya jangan industri televisi di Indonesia ini dihalang-halangi kemajuannya. Yang anda lihat ini adalah pendekatan dan promosi bisnis, meskipun tujuan akhirnya adalah kepentingan Negara Malaysia”.
Astro yang menyelenggarakan event ini adalah perusahaan swasta besar di Malaysia. Dari pelanggannya saja di Malaysia, Astro memperoleh revenue tetap sebesar 3.5 T Rupiah per tahun – tiga kali lebih besar dari revenue RCTI tahun ini. Saya jadi teringat kilas balik acara peluncuran satelit Telkom di Cibinong pertengahan November 2005 dilakukan pada pukul 07.00 pagi di stasiun bumi Telkom Cibinong. Dipasang tenda besar di halaman. Sekitar 500 hadirin datang – sebagian besar adalah anggota DPR, Pejabat Telkom, Dept. Infokom serta aparat birokrasi pusat maupun daerah. Ada sebuah layar lebar yang gambarnya remang-remang menceritakan detik-detik sebelum peluncuran satelit. Suara countdown yang tidak jelas dan acara yang sangat formal. Bahkan ketika Presiden SBY berpidato microphone mati, terpaksa Presiden menggunakan microphone cadangan yang suaranya sayup-sayup tak sampai.
Saya sudah beberapa kali menyaksikan peluncuran satelit Telkom maupun Palapa dan selalu suasananya sama – formal dan birokratis.
Peluncuran Satelit Measat-3 menunjukkan perbedaan jelas diantara kita dan Malaysia. Malaysia sudah masuk dalam era Malaysia in corporated. Dimana pemerintah telah menyatu dengan usaha swasta. Mahathir berhasil merubah attitude para birokrat Malaysia dengan berulang-lang mengatakan : “Gaji anda diperoleh dari private sector, yakni dari pajak yang mereka bayarkan ke Negara. Jadi kalau anda membantu private sector – itu berarti anda membantu diri anda sendiri”.
Sementara Indonesia masih berada di era Malaysia 15 tahun lalu. Waktu itu kondisi Malaysia digambarkan oleh Mahathir sebagai : “Pemerintah waktu itu merasa sebagai musuh dari private sector. Dan sebaliknya sektor swasta melihat regulasi-regulasinya di buat Pemerintah sebagai hambatan bagi usaha bisnis mereka”.[2]
Model tata acara peluncuran satelit kedua Negara mencerminkan perbedaan kondisi dan situasi hubungan pemerintah dan bisnis kedua Negara.
Saya mimpikan pada acara peluncuran satelit berikutnya lima tahun lagi acara seluruhnya dirancang dan diselenggarakan oleh Trans Corp. Dijamin akan jauh lebih semarak, lebih bagus, lebih meriah dan lebih mengharukan katimbang peluncuran Measat-3. Dijamin lebih dahsyat dari Penta5. Hehehe…….
Jakarta, 27 Desember 2007
Ishadi S.K.
[1] Keberhasilan Pemerintah Malysia menyusun team ahli yang terdiri dari tokoh paling berpengaruh dalam praktek Information Techonolgy Dunia sekaran ini – dimungkinkan oleh pendekatan langsung dan pribadi Dr. Mahatir Mohammad kepada mereka lewat lobby intensif di Malaysia maupun Amerika Serikat. Khususnya kemampuan Dr Mahatir untuk menjual Malaysia dan menjadi contoh sebuah Negara berkembang yang akan melakukan lompatan ekonomi lewat MSC, telah menyebabkan tokoh-tokoh IT itu tertarik, ikut serta memberi arahan blue print dan bahkan membantu program pendidikan dan latihan serta menyumbang perangkat teknologi terbaru untuk proyek MSC ini. Lihat www.mdc.my/flagship/.index.html.
[2] Hajrudin Somun : “Mahathir The Secret of the Malaysian Success”. Pelanduk Publications (M) Sdn Bhd. Malaysia 2003.
Banzaiiii
Terlalu Indah dikenangkan,
Terlalu sedih dilupakan,
Setelah lama kita berjalan………(Koes Plus).
Hari ini seluruh ksatria baju hitam layak bersyukur dan berbahagia. Hasil jerih payah selama lima tahun, bergelut dalam keringat, kesulitan dan kesedihan, kerjakeras yang tak mengenal lelah dan waktu, akhirnya menghasilkan Trans TV mencapai posisi yang di impikan sejak lama. Mission accomplished! Share 16.2 dan revenue satu T plus plus. Sungguh fenomenal.
Pada raker Trans TV di Bandung tanggal 20 Januari tahun ini, CT dengan lantang mengatakan, saya beri target anda 875 M untuk revenue tahun ini dan Share 16. Bahkan CT mengatakan “saya yakin anda semua bisa mendapat lebih dari satu T”!!. Atiek langsung merunduk lesu. Arnie, Yonie dan AE Sales yang hadir ikut menunduk kebingungan. Semua peserta Raker ikut tunduk. Penuh tanda tanya. Tahun 2005 dengan effort habis habisan hanya terkumpul 704 M. Kalau menjadi satu T. berarti kenaikan 45 % !!. Tak mungkin, tak mungkin.
Tapi orang Trans sudah faham bahwa sekali diputuskan bagi CT tidak ada negosiasi apa lagi kompromi!. Selama dua puluh empat jam setelah itu masing masing divisi berembuk sendiri sendiri maupun bersama sama. DHS, ANW, WT,AS, AF sibuk berdiskusi dan berargumentasi, sampai pagi. Tatkala berbicara pada acara Penutupan Raker, tiba tiba saja saya tergerak untuk berteriak satu T, sambil berteriak bersama sama Banzaiiiii…...!!!.
Setelah itu Banzaiii menjadi sebutan yang paling sering diserukan. Banzaiii menjadi kata pemberi semangat untuk mencapai hal yang mustahil. Banzaiiii menjadi pemecah kebekuan dan keraguan.
Ada isyarat kecil yang terasa di hati. Bagi saya CT itu seorang visionair yang selalu dapat membuktikan bahwa apa yang dikatakan bisa dibuktikan dan menjadi kenyataan.
Hari ini saya jadi teringat sebuah diskusi singkat di Lt. 9 antara Cyril Nurhadi dan Ashis Shabo dari Price Water House Cooper - konsultan keuangan internasional – dengan BOD Trans TV, CT dan Pak Warnedy Juli 2003. Waktu itu Price Waterhouse Cooper mencoba membuat prediksi keuangan Trans TV lima tahun kedepan. Berdasarkan analisa mereka Trans TV akan memperoleh 500 M pada tahun ke lima dan satu T pada tahun ke 8. CT segera memotong dengan no!! – tidak!! Tahun 2004 harus 500 M, tahun 2005 700 M dan tahun 2006 satu T. “One Trillion ??” Kata Ashis Shabo – “Its Impossible Sir. You cannot achieve that number in that period of time”. Bisa kata CT setengah berteriak. CT kemudian menulis di papan analisisnya dengan jelas dan jernih. Kami semua setuju dengan pendapat Price Waterhouse yang sudah melakukan penelitian comprehensive diantara 10 stasiun TV yang ada. Namun kami semua terdiam, tidak berani ber agrumen – terdiam dalam keraguan.
Hari ini 15 Desember 2006, menjadi amat istimewa karena keraguan tiga tahun lalu telah dipatahkan. Dicampakan dengan keras. Karena data membuktikan dengan jelas. Mematahkan keraguan yang telah demikian lama membayang. Ternyata target satuT bisa terlampaui!!. Ternyata kalau tekad sudah bulat, kerja keras terus menerus secara spartan dan konsisten – target sebesar apapun bisa dicapai. Kerja keras – kerja keras – kerja keras. Itulah kuncinya !!. Barangkali memang harus begitu. Jangan lengah – jangan berhenti – jangan menyerah. Kita dikenal sebagai bangsa yang lembut. Soft nation – nice people. Namun culture seperti itu tidak cocok dengan persaingan yang demikian ketat . Apalagi kalau ketambahan didera semangat untuk menjadi yang terbaik. Menjadi nomer satu seperti dinyatakan dalam visi dan misi Trans TV lima tahun lalu.
Sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin. Itulah soalnya. Kelihatannya sederhana, namun disepanjang lima tahun banyak catatan yang terjaga.
Satu diantaranya adalah stretegi bisnis. Khususnya di programming – news -production – technical facility - sales and marketing – promo/pr – finace – general support – audit – collection – dan last but not least HRD. Terakhir ini amat penting peranannya dalam setiap recruitment – yang rata rata – berjumlah dua sampai tiga ratus orang setiap tahun nya. Mendidik, melatih dan mengawasi serta menjaga. Dalam hal disiplin – semangat kerja – corporate governance – etos kerja, serta skillful qualification yang setiap hari harus terus meningkat.
Tidak mudah menjadi nomer satu. Tidak mudah menjadi stasiun dengan revenue satu T. hanya tiga stasiun yang memperoleh kehormatan ini. RCTI, SCTV dan Trans TV. Namun kalau dua stasiun lainya memperoleh posisi tersebut setelah sepuluh tahun – Trans TV lebih singkat. Separuhnya!!. Ada energi luar biasa – ada strategi yang tepat guna – ada semangat yang membara – dan yang paling penting ada a very strong leadership. Dari jajaran teratas yang dijalankan dengan konsisten sampai lini terbawah.
Pada tahun 2001 – setelah masa percobaan enam bulan – share Trans TV 3.8. Setahun kemudian melonjak menjadi 13.1 dan berada di posisi ke empat diantara sebelas stasiun nasional. Setelah itu ada periode gonjang ganjing dan strategi yang miring. Tahun 2003, share menurun menjadi 12.3. Dan pada tahun 2004, menurun lagi menjadi 11.8 Dari stasiun nomor empat menjadi nomor lima bahkan nomor enam !!.
Lewat pembenahan struktur organisasi dan turun tangan CT setiap minggu terjadi rebaunch yang memberi harapan. Pada tahun 2005, share meningkat menjadi 13.7. Dan tahun ini menjadi 16.2.
Seiring dengan itu, Alhamdullilah dari sisi bisnis Trans TV tidak mengalami kesulitan. Revenue terus meningkat ditengah naik turunnya share dan rating secara tajam. Tahun 2002, setahun setelah mengudara revenue Trans TV mencapai 192.3 M. Tahun berikutnya 2003 menanjak nyaris 250 %!! Setelah itu rata rata meningkat 40 % setahun. Sebuah konsistensi kenaikan yang luar biasa buat sebuah usaha media.
Pertengahan Desember 2006 terlihat wajah kegembiraan dsemua kalangan Trans. Etape pertama telah dilalui. Tantangan berikutnya akan menghadang di depan. Trans harus menjadi nomor satu diakhir tahun depan. Tidak mudah karena banyak persaingan dan konspirasi. Persaingan bisnis yang mengabaikan etika[1]. Banyak lagi catatan catatan sepanjang tahun pertarungan 2007. Akan banyak kejutan dan peristiwa yang bermakna. Dalam istilah Dr. Rosihan Anwar “ the element of surprises”.Pada akhirnya waktu, dan sejarah yang menjadi saksi. Semoga Trans Tv siap menghadapi element of surprises di tahun 2007. Banzaiiii!!!
Jakarta, 20 Desember 2000.
Ishadi S.K.
[1] Menurut analis Politik Sukardi Rinakit: “persaingan yang tidak terkendali sering terjadi khususnya di Negara yang tidak memiliki kesadaran hukum dan etika. Semuapihak lebih menekankan kiat (pengalaman praktis) ketimbang ilmu, (pengalaman teoritis dan etika)”. (Harian Kompas, 26 Desember 2006).
Dalam konteks ini ilmu dan etika lebih dikedepankan di Era Soeharto. Ditandai dengan ketatnya regulasi serta besarnya peranan para Profesor lulusan Berkley di berbagai lini pemerintah dalam penyusunan kebijakan ekonomi makro . Sementara di Era Reformasi, khususnya di era ephuoria lebih banyak mengedepankan kiat. Sayangnya di era Soeharto, setelah tahun 1980an situasi ekonomi umumnya dirusak oleh KKN yang makin lama secara struktural makin kuat.
Terlalu sedih dilupakan,
Setelah lama kita berjalan………(Koes Plus).
Hari ini seluruh ksatria baju hitam layak bersyukur dan berbahagia. Hasil jerih payah selama lima tahun, bergelut dalam keringat, kesulitan dan kesedihan, kerjakeras yang tak mengenal lelah dan waktu, akhirnya menghasilkan Trans TV mencapai posisi yang di impikan sejak lama. Mission accomplished! Share 16.2 dan revenue satu T plus plus. Sungguh fenomenal.
Pada raker Trans TV di Bandung tanggal 20 Januari tahun ini, CT dengan lantang mengatakan, saya beri target anda 875 M untuk revenue tahun ini dan Share 16. Bahkan CT mengatakan “saya yakin anda semua bisa mendapat lebih dari satu T”!!. Atiek langsung merunduk lesu. Arnie, Yonie dan AE Sales yang hadir ikut menunduk kebingungan. Semua peserta Raker ikut tunduk. Penuh tanda tanya. Tahun 2005 dengan effort habis habisan hanya terkumpul 704 M. Kalau menjadi satu T. berarti kenaikan 45 % !!. Tak mungkin, tak mungkin.
Tapi orang Trans sudah faham bahwa sekali diputuskan bagi CT tidak ada negosiasi apa lagi kompromi!. Selama dua puluh empat jam setelah itu masing masing divisi berembuk sendiri sendiri maupun bersama sama. DHS, ANW, WT,AS, AF sibuk berdiskusi dan berargumentasi, sampai pagi. Tatkala berbicara pada acara Penutupan Raker, tiba tiba saja saya tergerak untuk berteriak satu T, sambil berteriak bersama sama Banzaiiiii…...!!!.
Setelah itu Banzaiii menjadi sebutan yang paling sering diserukan. Banzaiii menjadi kata pemberi semangat untuk mencapai hal yang mustahil. Banzaiiii menjadi pemecah kebekuan dan keraguan.
Ada isyarat kecil yang terasa di hati. Bagi saya CT itu seorang visionair yang selalu dapat membuktikan bahwa apa yang dikatakan bisa dibuktikan dan menjadi kenyataan.
Hari ini saya jadi teringat sebuah diskusi singkat di Lt. 9 antara Cyril Nurhadi dan Ashis Shabo dari Price Water House Cooper - konsultan keuangan internasional – dengan BOD Trans TV, CT dan Pak Warnedy Juli 2003. Waktu itu Price Waterhouse Cooper mencoba membuat prediksi keuangan Trans TV lima tahun kedepan. Berdasarkan analisa mereka Trans TV akan memperoleh 500 M pada tahun ke lima dan satu T pada tahun ke 8. CT segera memotong dengan no!! – tidak!! Tahun 2004 harus 500 M, tahun 2005 700 M dan tahun 2006 satu T. “One Trillion ??” Kata Ashis Shabo – “Its Impossible Sir. You cannot achieve that number in that period of time”. Bisa kata CT setengah berteriak. CT kemudian menulis di papan analisisnya dengan jelas dan jernih. Kami semua setuju dengan pendapat Price Waterhouse yang sudah melakukan penelitian comprehensive diantara 10 stasiun TV yang ada. Namun kami semua terdiam, tidak berani ber agrumen – terdiam dalam keraguan.
Hari ini 15 Desember 2006, menjadi amat istimewa karena keraguan tiga tahun lalu telah dipatahkan. Dicampakan dengan keras. Karena data membuktikan dengan jelas. Mematahkan keraguan yang telah demikian lama membayang. Ternyata target satuT bisa terlampaui!!. Ternyata kalau tekad sudah bulat, kerja keras terus menerus secara spartan dan konsisten – target sebesar apapun bisa dicapai. Kerja keras – kerja keras – kerja keras. Itulah kuncinya !!. Barangkali memang harus begitu. Jangan lengah – jangan berhenti – jangan menyerah. Kita dikenal sebagai bangsa yang lembut. Soft nation – nice people. Namun culture seperti itu tidak cocok dengan persaingan yang demikian ketat . Apalagi kalau ketambahan didera semangat untuk menjadi yang terbaik. Menjadi nomer satu seperti dinyatakan dalam visi dan misi Trans TV lima tahun lalu.
Sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin. Itulah soalnya. Kelihatannya sederhana, namun disepanjang lima tahun banyak catatan yang terjaga.
Satu diantaranya adalah stretegi bisnis. Khususnya di programming – news -production – technical facility - sales and marketing – promo/pr – finace – general support – audit – collection – dan last but not least HRD. Terakhir ini amat penting peranannya dalam setiap recruitment – yang rata rata – berjumlah dua sampai tiga ratus orang setiap tahun nya. Mendidik, melatih dan mengawasi serta menjaga. Dalam hal disiplin – semangat kerja – corporate governance – etos kerja, serta skillful qualification yang setiap hari harus terus meningkat.
Tidak mudah menjadi nomer satu. Tidak mudah menjadi stasiun dengan revenue satu T. hanya tiga stasiun yang memperoleh kehormatan ini. RCTI, SCTV dan Trans TV. Namun kalau dua stasiun lainya memperoleh posisi tersebut setelah sepuluh tahun – Trans TV lebih singkat. Separuhnya!!. Ada energi luar biasa – ada strategi yang tepat guna – ada semangat yang membara – dan yang paling penting ada a very strong leadership. Dari jajaran teratas yang dijalankan dengan konsisten sampai lini terbawah.
Pada tahun 2001 – setelah masa percobaan enam bulan – share Trans TV 3.8. Setahun kemudian melonjak menjadi 13.1 dan berada di posisi ke empat diantara sebelas stasiun nasional. Setelah itu ada periode gonjang ganjing dan strategi yang miring. Tahun 2003, share menurun menjadi 12.3. Dan pada tahun 2004, menurun lagi menjadi 11.8 Dari stasiun nomor empat menjadi nomor lima bahkan nomor enam !!.
Lewat pembenahan struktur organisasi dan turun tangan CT setiap minggu terjadi rebaunch yang memberi harapan. Pada tahun 2005, share meningkat menjadi 13.7. Dan tahun ini menjadi 16.2.
Seiring dengan itu, Alhamdullilah dari sisi bisnis Trans TV tidak mengalami kesulitan. Revenue terus meningkat ditengah naik turunnya share dan rating secara tajam. Tahun 2002, setahun setelah mengudara revenue Trans TV mencapai 192.3 M. Tahun berikutnya 2003 menanjak nyaris 250 %!! Setelah itu rata rata meningkat 40 % setahun. Sebuah konsistensi kenaikan yang luar biasa buat sebuah usaha media.
Pertengahan Desember 2006 terlihat wajah kegembiraan dsemua kalangan Trans. Etape pertama telah dilalui. Tantangan berikutnya akan menghadang di depan. Trans harus menjadi nomor satu diakhir tahun depan. Tidak mudah karena banyak persaingan dan konspirasi. Persaingan bisnis yang mengabaikan etika[1]. Banyak lagi catatan catatan sepanjang tahun pertarungan 2007. Akan banyak kejutan dan peristiwa yang bermakna. Dalam istilah Dr. Rosihan Anwar “ the element of surprises”.Pada akhirnya waktu, dan sejarah yang menjadi saksi. Semoga Trans Tv siap menghadapi element of surprises di tahun 2007. Banzaiiii!!!
Jakarta, 20 Desember 2000.
Ishadi S.K.
[1] Menurut analis Politik Sukardi Rinakit: “persaingan yang tidak terkendali sering terjadi khususnya di Negara yang tidak memiliki kesadaran hukum dan etika. Semuapihak lebih menekankan kiat (pengalaman praktis) ketimbang ilmu, (pengalaman teoritis dan etika)”. (Harian Kompas, 26 Desember 2006).
Dalam konteks ini ilmu dan etika lebih dikedepankan di Era Soeharto. Ditandai dengan ketatnya regulasi serta besarnya peranan para Profesor lulusan Berkley di berbagai lini pemerintah dalam penyusunan kebijakan ekonomi makro . Sementara di Era Reformasi, khususnya di era ephuoria lebih banyak mengedepankan kiat. Sayangnya di era Soeharto, setelah tahun 1980an situasi ekonomi umumnya dirusak oleh KKN yang makin lama secara struktural makin kuat.
Murdoch
Siapakah orang yang paling berpengaruh didunia. Jawabnya bisa berbeda dilihat dari sudut pandangnya. Ada yang mengatakan Presiden Amerika Serikat. Sebagai Negara super power adi kuasa tentu dia mempunyai kekuatan yang amat menentukan dunia. Tapi seorang presiden Amerika Serikat mempunyai masa jabatan terbatas. Maksimal 10 tahun.
Karena itu mereka sepakat bahwa orang yang paling berkuasa didunia adalah Rupert Murdoch. Ia lah pemilik News Corporation – perusahaan media yang memiliki jaringan ratusan media, cetak, radio dan televisi diseluruh dunia. Paling menonjol tentunya televisi. Ia memiliki mayoritas saham di Fox Channel yang menjadi channel keempat setelah ABC,NBC dan CBS di Amerika Serikat. Ia memiliki 30 saluran cable dan satelit di negri itu. Separuh dari kepemilikan saham National Geography dan sebagian saham GE yang menjadi induk dari televisi saingannya NBC. Diluar Amerika Murdoch memiliki dua puluh delapan saluran televisi di Inggris saja, delapan diantaranya berbagi share kepemilikan dengan Paramount dan Nickelodeon (Cartoon Channel yang paling kuat di dunia). Dia memiliki dua TV di Jerman, 16 tv lokal di Australia, satu di Canada enam di India. Murdoch lewat perusahaannya Star TV menguasai enam saluran televisi yang secara total menguasai 60% dari audience share negara itu. Murdoch juga memiliki saham minoritas disebuah stasiun TV Italia, dua di Jepang, delapan di Amerika Latin. Lewat Star TV Murdoch mengakusisi mayoritas saham ANTV dan sedang ber ancang-ancang untuk mengambil stasiun televisi ke dua di Indonesia – Lativi ?.
Di media cetak Murdoch memiliki 31 koran di Australia termasuk yang terbesar The Age. Tiga di kepulauan Fiji, beberapa koran besar di Inggris diantaranya The Sunday Times dan the (Daily) Times. Karena ia mengakusisi dua koran nasional yang beroplag jutaan eksemplar. Di Inggris itu Ia berhadapan dengan Undang Undang Monopoli. Ia tidak menyerah. Ia menunda akuisisi tersebut dan sementara itu berjuang habis mensupport Kandidat Partai Konservatif Margaret Tacher sebagai Perdana Mentri Inggris. Tata kala akhirnya Tacher menang dan menjadi Perdana Mentri, mulus lah upaya nya untuk mengakuisisi dua koran besar tadi.
Majalah terkemuka The Economist tahun 2000 melaporkan Murdoch holding company di Inggris memperoleh keuntungan 2,1 milyar dollar setahun namun lewat pembukuan yang kreatif dan lobby politiknya ia tak membayar satu shilling pun pajak ke pemerintah.
Murdoch adalah tipe orang yang tidak pernah mau kalah dalam menjalankan bisnisnya. Ketika dia berniat masuk dalam pasar Amerika, langkah pertama adalah membeli tabloid The New York Post dan melalui support dari Walikota New York waktu itu (yang dijanjikan untuk mendapat Rubrik untuk liputan tetap di tabloid itu) dia segera mendapatkan approval dari Walikota NY tersebut.[1]
Ketika dia memutuskan untuk mengembangkan bisnis jaringan radio dan televisi di Amerika, ia terkena ketentuan Undang-Undang yang melarang asing memiliki lebih dari 24.9% saham di radio dan televisi. Murdoch segera mengganti kewarganegaraannya dari Australi menjadi warga negara Amerika Serikat. Meskipun demikian dia masih berhadapan dengan salah satu regulasi yang mengharuskan parent corporation – perusahaan induknya harus berbasis di Amerika. Murdoch menolak karena ia memperoleh special tax advantage di Australia. Dengan menggunakan kekuatan empat surat kabar dan dua tabloid yang dimilikinya dia melakukan lobby dan berhasil memperoleh perlakuan khusus, boleh memiliki majority saham tanpa harus memindahkan perusahaannya ke Amerika – sebuah previlledge yang tidak akan diterima oleh siapapun setelah itu.
Contoh lain tahun 1990 Murdoch mengajukan pinjaman ke Export Import Bank of the United State, CEO bank tersebut menolak permintaannya. Murdoch kemudian bertemu dengan Presiden Jimmy Carter di White House bersama dengan Presiden Bank tersebut. Delapan hari kemudian Export Import bank memberi pinjaman US$250 juta kepada Murdoch untuk investasi di sebuah perusahaan penerbangan yang baru.
Pada tahun 1998 Murdoch lewat News Corporation mengakusisi HarperCollins Publisher yang revenue tahunannya mencapai 1 Milyar Dolar per tahun. Sementara itu Murdoch’s Fox Network sekarang menjadi saluran televisi ketiga mengalahkan NBC, yang kekuatannya pada sport programming.
Kalau anda menonton film James Bond “The World Is Not Enough”, anda tentu mengetahui sosok antagonis di film itu yang terinspirasi oleh Ruperth Murdoch. Digambarkan seorang yang sangat berkuasa, memiliki kantor berita, surat kabar, televisi dan jaringan satelit di seluruh dunia dan memanfaatkan kekuatan media. mencoba “mengatur” perang antara Inggris dan China – untuk mendapatkan hard news exclusive. Awalnya saya tidak percaya ada orang seperti itu tapi ketika saya membaca buku tulisan Neil Chenoweth “Virtual Murdoch” – Reality Wars on the Information Highway, akhirnya saya setuju bahwa Murdoch adalah tokoh yang menjadi insirasi raja media di film James Bond tersebut.
Ketika saya sedang dalam perjalanan udara dari Singapore ke Melbourne dua minggu yang lalu, tetangga duduk sebelah saya, seorang ibu warganegara Australia tertarik dengan buku Murdoch yang saya baca dan mengatakan: temannya seorang arsitek baru saja menyelesaikan kamar kerja Murdoch di Sydney. Di kamar kerja itu dipasang 40 layar televisi yang merupakan saluran televisi miliknya diseluruh dunia. Dari tempat itulah kalau ia di Sydney mengkontrol kerajaan bisnisnya. Dan apabila ia melihat hal yang salah di saluran televisi miliknya dimanapun diseluruh dunia ia segera menghubungi manajer televisi yang bersangkutan untuk menegurnya atau memecatnya – persis sama dengan kelakuan dalam film James Bond “The World Is Not Enough”.
Saya bertemu dengan Murdoch tahun 1999. Suatu pagi Mrs. Elizabeth O'Neill dari Kedutaan Australia menelpon saya dan mengatakan Robert Murdoch mau ketemu dengan saya dan Pak Alex Kumara sore hari di Hotel Regent, Kuningan. Jam 16.00 saya bertemu dengan dia dan istrinya – yang baru dinikahinya. Dua pertanyaan yang diajukan kepada saya : 1) apakah TVRI akan dijual ? “kenapa” Tanya saya. “Karena TVRI mempunyai jaringan terluas di Indonesia, saya tertarik”. Ketika saya mengatakan TVRI tidak mungkin dijual karena itu televisi milik pemerintah, Murdoch balik bertanya apakah Trans TV akan dijual ? saya mengatakan: TRANS TV belum mengudara dan saya meragukan apakah Pak CT akan menjual begitu awal. Kami kemudian mengobrol lebih kurang 40 menit sebelum di kembali ke Hongkong dengan pesawat pribadinya.
Di Hongkong dia memiliki Star TV yang memiliki jaringan majority di India, China, Thailand, Philipine, Malaysia dan Indonesia (ANTV-STAR TV).
Bisnis Murdoch seakan tidak terbendung lagi, tahun 2003 ia mengakusisi Huges Direct TV Satellite System – yang memungkinkan ia mengembangkan televisi satelit di seluruh dunia dan menambah annual incomenya sampai dengan 9 Milyar Dollar.
Musim panas tahun 2005, Murdoch mengakusisi bisnis on line dengan mengakusisi My-Space.com[2] – sebuah situs jaringan dengan harga 587 juta dollar. Pada saat yang sama ia juga mengakusisi situs internet lokal maupun internasional. Lewat tangan dinginnya, setahun setelah di akusisi, My-Space assetnya meningkat 5 kali lipat menjadi 3 Milyar Dollar. Sekarang My-Space menjadi salah satu situs paling popular di Amerika Serikat, bersama Yahoo!, Google, MSN dan Ebay. Langkah Murdoch tidak salah karena My-Space yang didirikan oleh dua anak muda Tom Andersen dan Christ DeWolfe tiga tahun yang lalu merupakan situs yang lagi melejit sekarang ini karena menjadi tempat mangkal dari hampir semua musisi dunia saat ini. Mulai dari Janet Jackson, Bob Dylan sampai dengan 2.2 juta musisi lainnya diseluruh dunia.
Murdoch memang “the most powerfull person in the world today”. Dengan kerajaan media yang dimilikinya diseluruh dunia, mulai dari televisi, tv cable, tv satellite, media cetak, radio dan sekarang ini media on line. Dia menjadi orang yang menentukan siapa yang akan menjadi Perdana Menteri Australia, Perdana Menteri Inggris maupun Walikota New York bahkan Presiden Amerika Serikat.
Itulah Rupert Murdoch, seorang pebisnis vissionare yang memulai usahanya dengan mengelola sebuah Koran lokal di Adelaide 40 tahun yang lalu.
Kerja keras, tak mengenal belas kasihan, berani mengambil keputusan dan menghalalkan segala cara. Ketika menjadi mahasiswa di Oxford, dia dipanggil oleh teman-temanya sebagai “Red Rupperth” karena pemikiran-pemikirannya yang sangat radikal – dengan tujuan menghalalkan segala cara. Sebuah julukan yang ternyata tepat tatkala dia dengan gayanya yang tak mengenal kasihan menjalankan global bisninya 30 tahun kemudian.
Jakarta, 18 Oktober 2006.
Ishadi S.K.
[1] Buku “The New Media Monopoly, Ben. H. Bagdikian Hal 37-41
[2] Majalah Tempo edisi 25 Sept, hal 74.
Karena itu mereka sepakat bahwa orang yang paling berkuasa didunia adalah Rupert Murdoch. Ia lah pemilik News Corporation – perusahaan media yang memiliki jaringan ratusan media, cetak, radio dan televisi diseluruh dunia. Paling menonjol tentunya televisi. Ia memiliki mayoritas saham di Fox Channel yang menjadi channel keempat setelah ABC,NBC dan CBS di Amerika Serikat. Ia memiliki 30 saluran cable dan satelit di negri itu. Separuh dari kepemilikan saham National Geography dan sebagian saham GE yang menjadi induk dari televisi saingannya NBC. Diluar Amerika Murdoch memiliki dua puluh delapan saluran televisi di Inggris saja, delapan diantaranya berbagi share kepemilikan dengan Paramount dan Nickelodeon (Cartoon Channel yang paling kuat di dunia). Dia memiliki dua TV di Jerman, 16 tv lokal di Australia, satu di Canada enam di India. Murdoch lewat perusahaannya Star TV menguasai enam saluran televisi yang secara total menguasai 60% dari audience share negara itu. Murdoch juga memiliki saham minoritas disebuah stasiun TV Italia, dua di Jepang, delapan di Amerika Latin. Lewat Star TV Murdoch mengakusisi mayoritas saham ANTV dan sedang ber ancang-ancang untuk mengambil stasiun televisi ke dua di Indonesia – Lativi ?.
Di media cetak Murdoch memiliki 31 koran di Australia termasuk yang terbesar The Age. Tiga di kepulauan Fiji, beberapa koran besar di Inggris diantaranya The Sunday Times dan the (Daily) Times. Karena ia mengakusisi dua koran nasional yang beroplag jutaan eksemplar. Di Inggris itu Ia berhadapan dengan Undang Undang Monopoli. Ia tidak menyerah. Ia menunda akuisisi tersebut dan sementara itu berjuang habis mensupport Kandidat Partai Konservatif Margaret Tacher sebagai Perdana Mentri Inggris. Tata kala akhirnya Tacher menang dan menjadi Perdana Mentri, mulus lah upaya nya untuk mengakuisisi dua koran besar tadi.
Majalah terkemuka The Economist tahun 2000 melaporkan Murdoch holding company di Inggris memperoleh keuntungan 2,1 milyar dollar setahun namun lewat pembukuan yang kreatif dan lobby politiknya ia tak membayar satu shilling pun pajak ke pemerintah.
Murdoch adalah tipe orang yang tidak pernah mau kalah dalam menjalankan bisnisnya. Ketika dia berniat masuk dalam pasar Amerika, langkah pertama adalah membeli tabloid The New York Post dan melalui support dari Walikota New York waktu itu (yang dijanjikan untuk mendapat Rubrik untuk liputan tetap di tabloid itu) dia segera mendapatkan approval dari Walikota NY tersebut.[1]
Ketika dia memutuskan untuk mengembangkan bisnis jaringan radio dan televisi di Amerika, ia terkena ketentuan Undang-Undang yang melarang asing memiliki lebih dari 24.9% saham di radio dan televisi. Murdoch segera mengganti kewarganegaraannya dari Australi menjadi warga negara Amerika Serikat. Meskipun demikian dia masih berhadapan dengan salah satu regulasi yang mengharuskan parent corporation – perusahaan induknya harus berbasis di Amerika. Murdoch menolak karena ia memperoleh special tax advantage di Australia. Dengan menggunakan kekuatan empat surat kabar dan dua tabloid yang dimilikinya dia melakukan lobby dan berhasil memperoleh perlakuan khusus, boleh memiliki majority saham tanpa harus memindahkan perusahaannya ke Amerika – sebuah previlledge yang tidak akan diterima oleh siapapun setelah itu.
Contoh lain tahun 1990 Murdoch mengajukan pinjaman ke Export Import Bank of the United State, CEO bank tersebut menolak permintaannya. Murdoch kemudian bertemu dengan Presiden Jimmy Carter di White House bersama dengan Presiden Bank tersebut. Delapan hari kemudian Export Import bank memberi pinjaman US$250 juta kepada Murdoch untuk investasi di sebuah perusahaan penerbangan yang baru.
Pada tahun 1998 Murdoch lewat News Corporation mengakusisi HarperCollins Publisher yang revenue tahunannya mencapai 1 Milyar Dolar per tahun. Sementara itu Murdoch’s Fox Network sekarang menjadi saluran televisi ketiga mengalahkan NBC, yang kekuatannya pada sport programming.
Kalau anda menonton film James Bond “The World Is Not Enough”, anda tentu mengetahui sosok antagonis di film itu yang terinspirasi oleh Ruperth Murdoch. Digambarkan seorang yang sangat berkuasa, memiliki kantor berita, surat kabar, televisi dan jaringan satelit di seluruh dunia dan memanfaatkan kekuatan media. mencoba “mengatur” perang antara Inggris dan China – untuk mendapatkan hard news exclusive. Awalnya saya tidak percaya ada orang seperti itu tapi ketika saya membaca buku tulisan Neil Chenoweth “Virtual Murdoch” – Reality Wars on the Information Highway, akhirnya saya setuju bahwa Murdoch adalah tokoh yang menjadi insirasi raja media di film James Bond tersebut.
Ketika saya sedang dalam perjalanan udara dari Singapore ke Melbourne dua minggu yang lalu, tetangga duduk sebelah saya, seorang ibu warganegara Australia tertarik dengan buku Murdoch yang saya baca dan mengatakan: temannya seorang arsitek baru saja menyelesaikan kamar kerja Murdoch di Sydney. Di kamar kerja itu dipasang 40 layar televisi yang merupakan saluran televisi miliknya diseluruh dunia. Dari tempat itulah kalau ia di Sydney mengkontrol kerajaan bisnisnya. Dan apabila ia melihat hal yang salah di saluran televisi miliknya dimanapun diseluruh dunia ia segera menghubungi manajer televisi yang bersangkutan untuk menegurnya atau memecatnya – persis sama dengan kelakuan dalam film James Bond “The World Is Not Enough”.
Saya bertemu dengan Murdoch tahun 1999. Suatu pagi Mrs. Elizabeth O'Neill dari Kedutaan Australia menelpon saya dan mengatakan Robert Murdoch mau ketemu dengan saya dan Pak Alex Kumara sore hari di Hotel Regent, Kuningan. Jam 16.00 saya bertemu dengan dia dan istrinya – yang baru dinikahinya. Dua pertanyaan yang diajukan kepada saya : 1) apakah TVRI akan dijual ? “kenapa” Tanya saya. “Karena TVRI mempunyai jaringan terluas di Indonesia, saya tertarik”. Ketika saya mengatakan TVRI tidak mungkin dijual karena itu televisi milik pemerintah, Murdoch balik bertanya apakah Trans TV akan dijual ? saya mengatakan: TRANS TV belum mengudara dan saya meragukan apakah Pak CT akan menjual begitu awal. Kami kemudian mengobrol lebih kurang 40 menit sebelum di kembali ke Hongkong dengan pesawat pribadinya.
Di Hongkong dia memiliki Star TV yang memiliki jaringan majority di India, China, Thailand, Philipine, Malaysia dan Indonesia (ANTV-STAR TV).
Bisnis Murdoch seakan tidak terbendung lagi, tahun 2003 ia mengakusisi Huges Direct TV Satellite System – yang memungkinkan ia mengembangkan televisi satelit di seluruh dunia dan menambah annual incomenya sampai dengan 9 Milyar Dollar.
Musim panas tahun 2005, Murdoch mengakusisi bisnis on line dengan mengakusisi My-Space.com[2] – sebuah situs jaringan dengan harga 587 juta dollar. Pada saat yang sama ia juga mengakusisi situs internet lokal maupun internasional. Lewat tangan dinginnya, setahun setelah di akusisi, My-Space assetnya meningkat 5 kali lipat menjadi 3 Milyar Dollar. Sekarang My-Space menjadi salah satu situs paling popular di Amerika Serikat, bersama Yahoo!, Google, MSN dan Ebay. Langkah Murdoch tidak salah karena My-Space yang didirikan oleh dua anak muda Tom Andersen dan Christ DeWolfe tiga tahun yang lalu merupakan situs yang lagi melejit sekarang ini karena menjadi tempat mangkal dari hampir semua musisi dunia saat ini. Mulai dari Janet Jackson, Bob Dylan sampai dengan 2.2 juta musisi lainnya diseluruh dunia.
Murdoch memang “the most powerfull person in the world today”. Dengan kerajaan media yang dimilikinya diseluruh dunia, mulai dari televisi, tv cable, tv satellite, media cetak, radio dan sekarang ini media on line. Dia menjadi orang yang menentukan siapa yang akan menjadi Perdana Menteri Australia, Perdana Menteri Inggris maupun Walikota New York bahkan Presiden Amerika Serikat.
Itulah Rupert Murdoch, seorang pebisnis vissionare yang memulai usahanya dengan mengelola sebuah Koran lokal di Adelaide 40 tahun yang lalu.
Kerja keras, tak mengenal belas kasihan, berani mengambil keputusan dan menghalalkan segala cara. Ketika menjadi mahasiswa di Oxford, dia dipanggil oleh teman-temanya sebagai “Red Rupperth” karena pemikiran-pemikirannya yang sangat radikal – dengan tujuan menghalalkan segala cara. Sebuah julukan yang ternyata tepat tatkala dia dengan gayanya yang tak mengenal kasihan menjalankan global bisninya 30 tahun kemudian.
Jakarta, 18 Oktober 2006.
Ishadi S.K.
[1] Buku “The New Media Monopoly, Ben. H. Bagdikian Hal 37-41
[2] Majalah Tempo edisi 25 Sept, hal 74.
Barry M. Osborne
Tanggal 3 Oktober 2006 yang lalu TRANS TV memperoleh kesempatan berharga mengundang Producer besar Hollywood Barry M. Osborne. Barry menjadi terkenal setelah dia sebagai producer dari trilogy film The Lord of the Ring bersama producer Peter Jackson dan Fran Walsh. Episode ke-tiga The Lord of the Ring: The Return of the King memperoleh penghargaan Oscar sebagai Best Picture tahun 2004. Barry yang kini berusia 60 tahun memproduksi film-film besar yang selalu mendapat sambutan luas dan memperoleh return keuangan yang tinggi. Produser bertangan dingin ini memproduksi film-film yang akrab dengan kita, diantaranya : Film serial tv Kojak (1973), Apocalypse Now (1979), Octopussy 007 James Bond (1983), The Child’s Play (1988), The Cotton Club (1984), Dick Tracy (1990), China Moon (1994), The Fan (1996), Face Off (1997) dengan Sutradara John Woo, The Matrix (1999).
Trilogi The Lord of The Ring bahkan dibuat back to back selama lima belas bulan dan 274 hari di New Zaeland – tempat ia tinggal sekarang. Membutuhkan set dekor, lokasi dan logistic yang luar biasa besar dengan 2000 crew dan lima lokasi yang berjauhan jaraknya. Osborne dan directorsnya menyewa lima helicopter untuk bisa bekerja di lima lokasi sekaligus dan menyewa satu transponder satelit khusus untuk mengirim pre production editing, evaluasi, teleconference dan koordinasi. Untuk semua ini Osborne harus menghabiskan dana sebanyak 5 trilyun rupiah. Namun jerih payahnya terbayar ketika film tersebut menghasilkan tujuh belas trilyun rupiah dari hasil penjualan film di ribuan bioskop di seluruh dunia belum termasuk rights untuk dvd, tv dan merchandise.
Barry mempunyai pengalaman panjang – 30 tahun bergelimang didunia film Hollywood. Ia memulai karirnya sebagai assisten sutradara dari sutradara besar seperti Francis Coppola, Allan dan Sydney Pollack dalam memproduksi film-film besar seperti The God Father II, and All The President Man.
Dimasa mudanya meskipun ia menentang perang Vietnam, ia memasuki program militer selama tiga tahun dan terlibat dalam perang Vietnam dan Korea. Pengalaman pribadinya inilah yang memberikan inspirasi ketika ia memproduksi film “Apocalypse Now”, sebuah film yang menggambarkan keganasan perang Vietnam. Pengalamannya sebagai Letnan di Angkatan Darat Amerika Serikat di Corp. Zeni memberikannya keahlian dalam logistik yang sangat dibutuhkan dalam sebuah pembuatan film besar seperti The Lord of The Ring.
Osborne datang ke Trans TV atas undangan Pak Chairul Tanjung. Dia sedang mencari partner untuk memproduksi serial documentary dengan biaya 25 juta dollar. Pak Chairul memintanya untuk membuat film bioskop yang berlokasi di Indonesia dengan sutradara John Woo dengan bintang sekelas Brad Pitt. Kalau ini terjadi akan banyak crew Indonesia yang akan dilibatkan termasuk Trans TV. Hanya semalam Osborne berada di Jakarta namun berutung bisa ”dibajak” Wishnutama hari Selasa pagi bertemu dengan Produser, Ass Producer, PA dan kreative TRANS TV. Mereka beruntung mendapat ceramah dari salah satu producer terbesar di Hollywood sekarang ini. Meskipun ia seorang producer besar Hollywood namun ia sangat humble (rendah hati) dalam menjawab pertanyaan. Dengan sabar ia menjelaskan satu persatu setiap pertanyaan yang diajukan. Ada beberapa kiat yang perlu dicermati terutama kunci dari semua sukses dari pembuatan film adalah team work. Dan team work yang baik terdiri dari talenta tingkat profesional dan attitute yang sama di lini produksi. Menjadi tugas producer untuk melakukan tugas seleksi yang baik.
1. Team work dihasilkan melalui mutual respect dari semua anggota dan komunikasi yang terbuka dan akrab sebelum dan selama masa produksi.
2. Sebuah film yang baik diawali dari cerita yang baik, kemudian script yang baik dan tentu saja bintang yang baik.
3. Kegagalan terbesar dari produksi adalah over budget, karena itu producer harus terus menerus berdiskusi dengan semua unsur untuk menekan budget sehingga produksi bisa diselesaikan tepat waktu tanpa mengurangi keinginan tuntutan sutradara untuk menghasilkan karya yang maksimal.
Ketika ditanya seorang karyawan Trans, film-film yang diproduksi selalu suskes, apakah ia bisa menyebut satu film yang gagal ? Dengan tegas ia menjawab semua film yang diproduksinya berhasil. Ini menunjukkan sekali lagi kelas dari producer besar. Ini keyakinannya bahwa ia tidak pernah gagal membuat film. Telah dibuktikan selama puluhan tahun kariernya.
TRANS TV mudah-mudahan dibawah panji Trans Corp. suatu ketika memproduksi film besar yang produksinya dipimpin oleh Barry M. Osborne, disutradari oleh John Woo, dibintangi oleh Brad Pitt dengan latar belakang Indonesia. Diedarkan oleh Sony, Warner atau Paramount.
Osborne mengatakan ia bersedia untuk membuat film seperti itu. Dia menunggu proposal outline yang baik untuk ia pelajari. Nah sebuah kesempatan emas bukan ?
Jakarta, 12 Oktober 2006.
Trilogi The Lord of The Ring bahkan dibuat back to back selama lima belas bulan dan 274 hari di New Zaeland – tempat ia tinggal sekarang. Membutuhkan set dekor, lokasi dan logistic yang luar biasa besar dengan 2000 crew dan lima lokasi yang berjauhan jaraknya. Osborne dan directorsnya menyewa lima helicopter untuk bisa bekerja di lima lokasi sekaligus dan menyewa satu transponder satelit khusus untuk mengirim pre production editing, evaluasi, teleconference dan koordinasi. Untuk semua ini Osborne harus menghabiskan dana sebanyak 5 trilyun rupiah. Namun jerih payahnya terbayar ketika film tersebut menghasilkan tujuh belas trilyun rupiah dari hasil penjualan film di ribuan bioskop di seluruh dunia belum termasuk rights untuk dvd, tv dan merchandise.
Barry mempunyai pengalaman panjang – 30 tahun bergelimang didunia film Hollywood. Ia memulai karirnya sebagai assisten sutradara dari sutradara besar seperti Francis Coppola, Allan dan Sydney Pollack dalam memproduksi film-film besar seperti The God Father II, and All The President Man.
Dimasa mudanya meskipun ia menentang perang Vietnam, ia memasuki program militer selama tiga tahun dan terlibat dalam perang Vietnam dan Korea. Pengalaman pribadinya inilah yang memberikan inspirasi ketika ia memproduksi film “Apocalypse Now”, sebuah film yang menggambarkan keganasan perang Vietnam. Pengalamannya sebagai Letnan di Angkatan Darat Amerika Serikat di Corp. Zeni memberikannya keahlian dalam logistik yang sangat dibutuhkan dalam sebuah pembuatan film besar seperti The Lord of The Ring.
Osborne datang ke Trans TV atas undangan Pak Chairul Tanjung. Dia sedang mencari partner untuk memproduksi serial documentary dengan biaya 25 juta dollar. Pak Chairul memintanya untuk membuat film bioskop yang berlokasi di Indonesia dengan sutradara John Woo dengan bintang sekelas Brad Pitt. Kalau ini terjadi akan banyak crew Indonesia yang akan dilibatkan termasuk Trans TV. Hanya semalam Osborne berada di Jakarta namun berutung bisa ”dibajak” Wishnutama hari Selasa pagi bertemu dengan Produser, Ass Producer, PA dan kreative TRANS TV. Mereka beruntung mendapat ceramah dari salah satu producer terbesar di Hollywood sekarang ini. Meskipun ia seorang producer besar Hollywood namun ia sangat humble (rendah hati) dalam menjawab pertanyaan. Dengan sabar ia menjelaskan satu persatu setiap pertanyaan yang diajukan. Ada beberapa kiat yang perlu dicermati terutama kunci dari semua sukses dari pembuatan film adalah team work. Dan team work yang baik terdiri dari talenta tingkat profesional dan attitute yang sama di lini produksi. Menjadi tugas producer untuk melakukan tugas seleksi yang baik.
1. Team work dihasilkan melalui mutual respect dari semua anggota dan komunikasi yang terbuka dan akrab sebelum dan selama masa produksi.
2. Sebuah film yang baik diawali dari cerita yang baik, kemudian script yang baik dan tentu saja bintang yang baik.
3. Kegagalan terbesar dari produksi adalah over budget, karena itu producer harus terus menerus berdiskusi dengan semua unsur untuk menekan budget sehingga produksi bisa diselesaikan tepat waktu tanpa mengurangi keinginan tuntutan sutradara untuk menghasilkan karya yang maksimal.
Ketika ditanya seorang karyawan Trans, film-film yang diproduksi selalu suskes, apakah ia bisa menyebut satu film yang gagal ? Dengan tegas ia menjawab semua film yang diproduksinya berhasil. Ini menunjukkan sekali lagi kelas dari producer besar. Ini keyakinannya bahwa ia tidak pernah gagal membuat film. Telah dibuktikan selama puluhan tahun kariernya.
TRANS TV mudah-mudahan dibawah panji Trans Corp. suatu ketika memproduksi film besar yang produksinya dipimpin oleh Barry M. Osborne, disutradari oleh John Woo, dibintangi oleh Brad Pitt dengan latar belakang Indonesia. Diedarkan oleh Sony, Warner atau Paramount.
Osborne mengatakan ia bersedia untuk membuat film seperti itu. Dia menunggu proposal outline yang baik untuk ia pelajari. Nah sebuah kesempatan emas bukan ?
Jakarta, 12 Oktober 2006.
4T
Secara tidak sadar kita sudah lama memasuki era globalisasi. Meskipun untuk Indonesia secara praktis telah dimulai pada bulan Agustus 1976, tatkala Indonesia meluncurkan satelit Palapa. Soal istilah Globalisasi masih gamang di pemahaman sebagian besar kita. Saya mencoba untuk membuat petanya, agar bisa dipahami dengan mudah, ”habitat” apa globalisasi itu dalam konteks budaya, sehingga kita bisa menyikapinya dengan benar.
Pada Tahun 1987, dalam sebuah seminar di Universitas Indonesia, Prof. Dr. Daradjatun Kuntjoro Jakti, menyebut revolusi 3T untuk memaknai globalisasi yakni : revolusi transportasi, revolusi travel dan revolusi telekomunikasi. Saya menambahkan T yang terahir : Televisi – sehingga menjadi 4T. Konsep inilah yang saya ajarkan di kuliah setiap kali saya mengajar di UI, Unair Surabaya maupun di Universitas Sekolah Tinggi Filsafat Sanata Dharma di Yogyakarta sampai sekarang. Mari kita ”petani” 4T tersebut :
1. Transportasi.
Menurut Prof. Daradjatun Kuntjoro Jakti, revolusi transportasi menjadi indikator paling jelas dari globalisasi. Diantaranya di sektor industri konsumtif. Tumbuh Mal di pusat-pusat kota, Outlet di berbagai tempat yang menjual produk dari berbagai negara di import melalui sistem ”ro-ro” – roll in roll out. Sistim ini mengangkut produk, katakanlah sepatu Nike dari pabriknya di Tanggerang menggunakan container dibawa dengan truk ke Tanjung Priok. Dari Tanjung Priok dibawa kapal container berukuran sedang ke Singapura. Dari Singapura lewat kapal-kapal sea train – yang bisa mengangkut ratusan container sekaligus ke Los Angeles di pantai barat Amerika. Dari Pantai Barat diangkut dengan Kereta Api ke Pantai Timur New York. Dari Stasiun Kereta Api NY diangkut dengan truk ke toko-toko dan mal di kota itu. Sepatu ”Nike” tiba tepat waktu sehingga tidak perlu inventory yang besar di toko-toko dan sudah diperhitungkan kapan sepatu-sepatu tersebut datang. Tidak perlu melewati bongkar muat dan pemeriksaan menjelimet di berbagai pos. Karena perjalanan singkat – paling lama tiga minggu, stock tersedia dalam jangka waktu yang ”fresh from the oven” baik dari sisi modelnya maupun jenisnya. Konsep ini juga yang memungkinkan pabrik-pabrik mobil besar Toyota, Ford, Mercy memproduksi mobil dengan cepat. Karena komponen-kompenen sudah dibuat di berbagai sub-contractor diseluruh dunia. Pintu dari Turki, Jok kulit dari Spanyol, chasis dari Jepang, body mobil dari Brazil, mesin dari Jerman. Di pabrik mobil Mercy di Stugrat, Jerman, setiap 25 detik diluncurkan sebuah mobil berbagai type dari kelas A, C, E hinggal S class, itu berarti sekitar 4,500 mobil setiap hari. Dan segera dengan sistim ’ro-ro’ dikapalkan ke pelosok dunia. Setelah krisis 1997 Taiwan sebagai negara Asia yang paling banyak mengimport Mercy, pada bulan September 1999 dalam semalam pernah memesan 2,500 Mercy type C, E dan S Class, berkat sistim ontime delivery ini.
2. Travel
Globalisasi ditandai dengan perjalanan yang luar biasa. Mobilitas penduduk dunia menjadi sangat tinggi yang mengakibatkan revolusi dibidang travelling – perjalanan. Di produksi kapal-kapal penumpang luxurious sampai yang terbesar 200,000 Ton untuk menjelajahi Trans Atlantic maupun Trans Amerika – Amerika Utara sampai Amerika Selatan. Dikembangkan jalan-jalan tol bebas hambatan yang menghubungkan antar kota, antar propinsi dan antar negara. Orang sekarang praktis bisa berkendaraan dari Bali sampai ke Finlandia. Kereta Api dikembangkan dan melahirkan kereta api cepat – ”bullet train” yang kecepatannya memungkinkan jarak Jakarta – Surabaya ditempuh dalam waktu 2 jam. Pesawat terbang jumbo dikembangkan. Awal tahun 2007, Singapore Airlines menjadi Airlines pertama yang menerbangkan pesawat 2 lantai Air Bus 380.yang bisa memuat 600 orang. Terbang dari Singapore ke London dan dari Singapore ke Sydney. Untuk keperluan tersebut lima tahun terakhir beberapa lapangan udara telah menyiapkan diri. Lapangan Terbang Changi di Singapore sudah membuka terminal ke-Empat. Hongkong dengan lapangan terbang Hongkong International Airport – Chek Lap Kok, yang baru dibangun tahun 1998 dengan biaya 20 Milyar Dollar sudah siap menampung pesawat-pesawat Super Jumbo. Malaysia telah membuka bandara baru KLIA – 60 km dari KL. Bangkok segera meresmikan bandara baru. Bandara baru tersebut sudah bisa menampung kedatangan dan keberangkatan A-380 dengan garbarata bertingkat sebayak 6 buah sekaligus. Demikian pula dengan proses bongkar muat barang, naik turun penumpang serta pendukung imigrasi. Dari lapangan terbang ini penumpang diangkut dengan feeder line berupa pesawat-pesawat lebih kecil yang sekarang digunakan ke Bali, Jakarta, Pattaya dan tujuan-tujuan lain.
Hotel juga meningkat, Hilton sekarang memiliki 15,000 jaringan hotel diseluruh Dunia. Jaringan hotel Novotel sudah ada di Medan, Jambi, Lampung, Bandung, Yogya, Solo, Bali dan Menado. Dikembangkan sistem one day shopping – orang belanja di Kuala Lumpur, Singapore berangkat pagi pulang malam. Teman saya Danny Jozal ketika menjadi CEO BASF Asia di Jakarta, kalau mengadakan rapat berangkat sore dari Jakarta dengan Lutfansha duduk di first class sehingga bisa tidur, pagi sampai di Frankfurt, Jerman rapat, makan siang, presentasi sore harinya dan malam harinya pulang ke Jakarta pada hari yang sama – tidak perlu menginap di hotel, karena kabin first class pesawat sudah seperti bintang lima, menghemat waktu. Para pegolf Jepang bermain golf di Bali setiap akhir minggu, berangkat Jum’at sore sampai di Bali sabtu pagi, main golf 18 holes, malam hari menikmati lobster di Jimbaran, minggu pagi main golf lagi dan sore kembali ke Tokyo senin sudah bekerja kembali. Package golf tours (termasuk tiket pesawat, hotel dan makan) seperti itu lebih murah dari pada main di Tokyo.
Tidak kurang dari 100 juta orang Amerika berpergian setiap tahun antar negara bagian maupun antar negara dengan menggunakan moda transportasi mobil, kereta api, pesawat terbang maupun kapal laut.
3. Telekomunikasi.
Telekomunikasi ditandai dengan perkembangan satelit. Di wilayah GSO yang berada di atas khatulistiwa, sekarang ini terdapat 22,000 satelit berbagai negara dan kepentingan. Teknologi satelit inilah yang menghubungkan penduduk antar wilayah antar negara dengan jangkauan dan kecepatan yang luar biasa. Situs My Space.com misalnya sebuah situs yang didirikan oleh Tom Andersen, sarjana sastra Inggris dari Berkeley University bersama Christ De Wolfe pada bulan Juli 2004 telah dikunjungi satu milyar kali sehari hanya dalam kurun waktu 3 tahun. ”My Space” yang menjadi tempat nongkrong virtual terbesar dari raksasa hiburan seperti Janet Jackson atau Bob Dylan maupun 2.2 juta musisi independen, ribuan sineas amatir dan sekitar 8000 komedian.[1] My Space adalah situs yang tidak hanya mentayangkan data tertulis dan gambar namun juga video klip musik dan film. Ini adalah gerbong terakhir dari teknologi informasi yang sudah menghubungkan ”3C” : communication, content dan computer. Teknologi satelit juga memungkinkan sekarang ini semua orang men down load peta dunia yang bisa di zoom in hingga terlihat photo rumah diseluruh dunia. Jika anda mempunyai rumah di Melbourne, Australia atau di Cimelati, Sukabumi, dengan membayar US$200, anda bisa memantau kondisi lewat note book maupun desk computer dimanapun anda berada selama 24 jam penuh. Lewat satelit dengan memasang web cam di computer, anda bisa memantau sekretaris anda ketika anda sedang berlibur bermain ski di lake Tahoe di California. Melalui GPS, perusahaan taxi Blue Bird bisa memantau 7,500 armada taxinya di seluruh Indonesia dimanapun mereka berada.
4. Televisi
Revolusi disektor televisi telah mengubah entitas penonton televisi namun juga budaya penduduk dunia. Ketika World Cup di Jerman berlangsung tahun 2006, pada suatu malam pertandingan final, 18 Oktober 2006 pertandingan antara Perancis dan Italia, 2 milyar penduduk dunia mempunyai perilaku yang sama, memeloti, bersorak bersama dalam waktu yang bersamaan walaupun pada tempat dan waktu yang berbeda. Malam hari di Jerman, pukul 02.00 pagi di Indonesia, pukul 23.00 di Australia dan 07.00 pagi di Hawaii dan 11.00 di Los Angles. Dan tatkala ketika adu penalti dilakukan, 2 milyar orang bersorak riuh rendah dalam berbagai ragam budaya dan komunitas. Pada waktu itu sudah digunakan sistim digital dan High Definition TV yang memungkinkan orang untuk merecord program bahkan melalui pay tv meminta ditayangkan untuk dirinya sendiri berbagai variant program world cup mulai dari behind the screen, profile atlit maupun ulasan gol-gol terindah selama World Cup berlangsung. Model televisi berwarna gedem sebesar lemari yang untuk memindahkannya diperlukan 4 orang sudah digantikan dengan flat screen dan LCD yang lebih lebar layarnya, lebih jelas gambarnya, lebih nyaring suaranya dan lebih ringan bobotnya. Revolusi televisi telah merubah cara orang menonton televisi. Kalau sepuluh tahun yang lalu orang harus mendatangi dimana televisi berada di ruang duduk, ruang tamu atau ruang tidur. Sekarang televisi yang mendatangi penonton dalam wujud tv mobile, tv di tempat duduk pesawat terbang, mobil, kereta api, restauran, note book bahkan di HP sebagaimana dilakukan di Eropa ketika World Cup berlangsung tahun ini.
Tv sudah bisa dibawa kemana-mana. Akibatnya secara budaya manusia dimanapun didunia sudah tidak dapat dilepaskan dari pesawat televisi. Televisi sudah menjadi basic need manusia. Sistim digital juga akan merubah stasiun televisi penyiaran. Empat dekade dari sekarang stasiun televisi sudah tidak penting, yang penting adalah content karena siaran televisi bisa ditangkap dengan perangkat apapun. Lewat kombinasi communication dan computer, acara televisi berupa content bisa dipreteli dan re-package dalam segmen-segmen lima menitan, 10 menitan atau 15 menitan. Lewat sistim televisi on demand, para content provider akan bisa mendistribusikan (dengan bayaran tertentu) petilan-petilan acara tersebut. Orang bisa meminta untuk didown load-kan gol-gol terbaik selama World Cup atau home run New York Yangkee musim turnamen 2006 atau hole in one dan birdie dari Tiger Wood di US Master 2006 atau petikan lagu ”TTM” dan ”Buaya Darat” dari Ratu bahkan sebuah sketsa dari Extravaganza. Jadi kalau pikiran sedang kalut, perasaan lagi bete, stress, download saja sketsa Extravaganza pilihan, pastilah hilang segala persaan tertekan dan susah.
Demikianlah peta 4T Globalisasi, sampai dimana perkembangannya sektor demi sektor tidak akan pernah diketahui. Yang pasti Globalisasi berkat Reformasi 4T tersebut telah membuat manusia menjadi efiesien, lebih mudah mengakses, lebih murah membeli produk dan jasa, lebih membuka oppurtunity dan peluang bisnis dan usaha. Lebih membuat kehidupan menjadi lebih enak dilakoni, semuanya itu hanya dengan nilai harga yang makin lama makin murah.
Sebaliknya globalisasi tidak dapat lagi dihindari, kita masuk dalam putarannya atau terlempar keluar dan hidup dalam isolasi terasing dan sendiri. Mesti itu bukan suatu pilihan yang buruk.
Jakarta, 11 Oktober 2006
[1] Majalah Tempo Edisi 25 Sept – 01 Oktober 2006.
Pada Tahun 1987, dalam sebuah seminar di Universitas Indonesia, Prof. Dr. Daradjatun Kuntjoro Jakti, menyebut revolusi 3T untuk memaknai globalisasi yakni : revolusi transportasi, revolusi travel dan revolusi telekomunikasi. Saya menambahkan T yang terahir : Televisi – sehingga menjadi 4T. Konsep inilah yang saya ajarkan di kuliah setiap kali saya mengajar di UI, Unair Surabaya maupun di Universitas Sekolah Tinggi Filsafat Sanata Dharma di Yogyakarta sampai sekarang. Mari kita ”petani” 4T tersebut :
1. Transportasi.
Menurut Prof. Daradjatun Kuntjoro Jakti, revolusi transportasi menjadi indikator paling jelas dari globalisasi. Diantaranya di sektor industri konsumtif. Tumbuh Mal di pusat-pusat kota, Outlet di berbagai tempat yang menjual produk dari berbagai negara di import melalui sistem ”ro-ro” – roll in roll out. Sistim ini mengangkut produk, katakanlah sepatu Nike dari pabriknya di Tanggerang menggunakan container dibawa dengan truk ke Tanjung Priok. Dari Tanjung Priok dibawa kapal container berukuran sedang ke Singapura. Dari Singapura lewat kapal-kapal sea train – yang bisa mengangkut ratusan container sekaligus ke Los Angeles di pantai barat Amerika. Dari Pantai Barat diangkut dengan Kereta Api ke Pantai Timur New York. Dari Stasiun Kereta Api NY diangkut dengan truk ke toko-toko dan mal di kota itu. Sepatu ”Nike” tiba tepat waktu sehingga tidak perlu inventory yang besar di toko-toko dan sudah diperhitungkan kapan sepatu-sepatu tersebut datang. Tidak perlu melewati bongkar muat dan pemeriksaan menjelimet di berbagai pos. Karena perjalanan singkat – paling lama tiga minggu, stock tersedia dalam jangka waktu yang ”fresh from the oven” baik dari sisi modelnya maupun jenisnya. Konsep ini juga yang memungkinkan pabrik-pabrik mobil besar Toyota, Ford, Mercy memproduksi mobil dengan cepat. Karena komponen-kompenen sudah dibuat di berbagai sub-contractor diseluruh dunia. Pintu dari Turki, Jok kulit dari Spanyol, chasis dari Jepang, body mobil dari Brazil, mesin dari Jerman. Di pabrik mobil Mercy di Stugrat, Jerman, setiap 25 detik diluncurkan sebuah mobil berbagai type dari kelas A, C, E hinggal S class, itu berarti sekitar 4,500 mobil setiap hari. Dan segera dengan sistim ’ro-ro’ dikapalkan ke pelosok dunia. Setelah krisis 1997 Taiwan sebagai negara Asia yang paling banyak mengimport Mercy, pada bulan September 1999 dalam semalam pernah memesan 2,500 Mercy type C, E dan S Class, berkat sistim ontime delivery ini.
2. Travel
Globalisasi ditandai dengan perjalanan yang luar biasa. Mobilitas penduduk dunia menjadi sangat tinggi yang mengakibatkan revolusi dibidang travelling – perjalanan. Di produksi kapal-kapal penumpang luxurious sampai yang terbesar 200,000 Ton untuk menjelajahi Trans Atlantic maupun Trans Amerika – Amerika Utara sampai Amerika Selatan. Dikembangkan jalan-jalan tol bebas hambatan yang menghubungkan antar kota, antar propinsi dan antar negara. Orang sekarang praktis bisa berkendaraan dari Bali sampai ke Finlandia. Kereta Api dikembangkan dan melahirkan kereta api cepat – ”bullet train” yang kecepatannya memungkinkan jarak Jakarta – Surabaya ditempuh dalam waktu 2 jam. Pesawat terbang jumbo dikembangkan. Awal tahun 2007, Singapore Airlines menjadi Airlines pertama yang menerbangkan pesawat 2 lantai Air Bus 380.yang bisa memuat 600 orang. Terbang dari Singapore ke London dan dari Singapore ke Sydney. Untuk keperluan tersebut lima tahun terakhir beberapa lapangan udara telah menyiapkan diri. Lapangan Terbang Changi di Singapore sudah membuka terminal ke-Empat. Hongkong dengan lapangan terbang Hongkong International Airport – Chek Lap Kok, yang baru dibangun tahun 1998 dengan biaya 20 Milyar Dollar sudah siap menampung pesawat-pesawat Super Jumbo. Malaysia telah membuka bandara baru KLIA – 60 km dari KL. Bangkok segera meresmikan bandara baru. Bandara baru tersebut sudah bisa menampung kedatangan dan keberangkatan A-380 dengan garbarata bertingkat sebayak 6 buah sekaligus. Demikian pula dengan proses bongkar muat barang, naik turun penumpang serta pendukung imigrasi. Dari lapangan terbang ini penumpang diangkut dengan feeder line berupa pesawat-pesawat lebih kecil yang sekarang digunakan ke Bali, Jakarta, Pattaya dan tujuan-tujuan lain.
Hotel juga meningkat, Hilton sekarang memiliki 15,000 jaringan hotel diseluruh Dunia. Jaringan hotel Novotel sudah ada di Medan, Jambi, Lampung, Bandung, Yogya, Solo, Bali dan Menado. Dikembangkan sistem one day shopping – orang belanja di Kuala Lumpur, Singapore berangkat pagi pulang malam. Teman saya Danny Jozal ketika menjadi CEO BASF Asia di Jakarta, kalau mengadakan rapat berangkat sore dari Jakarta dengan Lutfansha duduk di first class sehingga bisa tidur, pagi sampai di Frankfurt, Jerman rapat, makan siang, presentasi sore harinya dan malam harinya pulang ke Jakarta pada hari yang sama – tidak perlu menginap di hotel, karena kabin first class pesawat sudah seperti bintang lima, menghemat waktu. Para pegolf Jepang bermain golf di Bali setiap akhir minggu, berangkat Jum’at sore sampai di Bali sabtu pagi, main golf 18 holes, malam hari menikmati lobster di Jimbaran, minggu pagi main golf lagi dan sore kembali ke Tokyo senin sudah bekerja kembali. Package golf tours (termasuk tiket pesawat, hotel dan makan) seperti itu lebih murah dari pada main di Tokyo.
Tidak kurang dari 100 juta orang Amerika berpergian setiap tahun antar negara bagian maupun antar negara dengan menggunakan moda transportasi mobil, kereta api, pesawat terbang maupun kapal laut.
3. Telekomunikasi.
Telekomunikasi ditandai dengan perkembangan satelit. Di wilayah GSO yang berada di atas khatulistiwa, sekarang ini terdapat 22,000 satelit berbagai negara dan kepentingan. Teknologi satelit inilah yang menghubungkan penduduk antar wilayah antar negara dengan jangkauan dan kecepatan yang luar biasa. Situs My Space.com misalnya sebuah situs yang didirikan oleh Tom Andersen, sarjana sastra Inggris dari Berkeley University bersama Christ De Wolfe pada bulan Juli 2004 telah dikunjungi satu milyar kali sehari hanya dalam kurun waktu 3 tahun. ”My Space” yang menjadi tempat nongkrong virtual terbesar dari raksasa hiburan seperti Janet Jackson atau Bob Dylan maupun 2.2 juta musisi independen, ribuan sineas amatir dan sekitar 8000 komedian.[1] My Space adalah situs yang tidak hanya mentayangkan data tertulis dan gambar namun juga video klip musik dan film. Ini adalah gerbong terakhir dari teknologi informasi yang sudah menghubungkan ”3C” : communication, content dan computer. Teknologi satelit juga memungkinkan sekarang ini semua orang men down load peta dunia yang bisa di zoom in hingga terlihat photo rumah diseluruh dunia. Jika anda mempunyai rumah di Melbourne, Australia atau di Cimelati, Sukabumi, dengan membayar US$200, anda bisa memantau kondisi lewat note book maupun desk computer dimanapun anda berada selama 24 jam penuh. Lewat satelit dengan memasang web cam di computer, anda bisa memantau sekretaris anda ketika anda sedang berlibur bermain ski di lake Tahoe di California. Melalui GPS, perusahaan taxi Blue Bird bisa memantau 7,500 armada taxinya di seluruh Indonesia dimanapun mereka berada.
4. Televisi
Revolusi disektor televisi telah mengubah entitas penonton televisi namun juga budaya penduduk dunia. Ketika World Cup di Jerman berlangsung tahun 2006, pada suatu malam pertandingan final, 18 Oktober 2006 pertandingan antara Perancis dan Italia, 2 milyar penduduk dunia mempunyai perilaku yang sama, memeloti, bersorak bersama dalam waktu yang bersamaan walaupun pada tempat dan waktu yang berbeda. Malam hari di Jerman, pukul 02.00 pagi di Indonesia, pukul 23.00 di Australia dan 07.00 pagi di Hawaii dan 11.00 di Los Angles. Dan tatkala ketika adu penalti dilakukan, 2 milyar orang bersorak riuh rendah dalam berbagai ragam budaya dan komunitas. Pada waktu itu sudah digunakan sistim digital dan High Definition TV yang memungkinkan orang untuk merecord program bahkan melalui pay tv meminta ditayangkan untuk dirinya sendiri berbagai variant program world cup mulai dari behind the screen, profile atlit maupun ulasan gol-gol terindah selama World Cup berlangsung. Model televisi berwarna gedem sebesar lemari yang untuk memindahkannya diperlukan 4 orang sudah digantikan dengan flat screen dan LCD yang lebih lebar layarnya, lebih jelas gambarnya, lebih nyaring suaranya dan lebih ringan bobotnya. Revolusi televisi telah merubah cara orang menonton televisi. Kalau sepuluh tahun yang lalu orang harus mendatangi dimana televisi berada di ruang duduk, ruang tamu atau ruang tidur. Sekarang televisi yang mendatangi penonton dalam wujud tv mobile, tv di tempat duduk pesawat terbang, mobil, kereta api, restauran, note book bahkan di HP sebagaimana dilakukan di Eropa ketika World Cup berlangsung tahun ini.
Tv sudah bisa dibawa kemana-mana. Akibatnya secara budaya manusia dimanapun didunia sudah tidak dapat dilepaskan dari pesawat televisi. Televisi sudah menjadi basic need manusia. Sistim digital juga akan merubah stasiun televisi penyiaran. Empat dekade dari sekarang stasiun televisi sudah tidak penting, yang penting adalah content karena siaran televisi bisa ditangkap dengan perangkat apapun. Lewat kombinasi communication dan computer, acara televisi berupa content bisa dipreteli dan re-package dalam segmen-segmen lima menitan, 10 menitan atau 15 menitan. Lewat sistim televisi on demand, para content provider akan bisa mendistribusikan (dengan bayaran tertentu) petilan-petilan acara tersebut. Orang bisa meminta untuk didown load-kan gol-gol terbaik selama World Cup atau home run New York Yangkee musim turnamen 2006 atau hole in one dan birdie dari Tiger Wood di US Master 2006 atau petikan lagu ”TTM” dan ”Buaya Darat” dari Ratu bahkan sebuah sketsa dari Extravaganza. Jadi kalau pikiran sedang kalut, perasaan lagi bete, stress, download saja sketsa Extravaganza pilihan, pastilah hilang segala persaan tertekan dan susah.
Demikianlah peta 4T Globalisasi, sampai dimana perkembangannya sektor demi sektor tidak akan pernah diketahui. Yang pasti Globalisasi berkat Reformasi 4T tersebut telah membuat manusia menjadi efiesien, lebih mudah mengakses, lebih murah membeli produk dan jasa, lebih membuka oppurtunity dan peluang bisnis dan usaha. Lebih membuat kehidupan menjadi lebih enak dilakoni, semuanya itu hanya dengan nilai harga yang makin lama makin murah.
Sebaliknya globalisasi tidak dapat lagi dihindari, kita masuk dalam putarannya atau terlempar keluar dan hidup dalam isolasi terasing dan sendiri. Mesti itu bukan suatu pilihan yang buruk.
Jakarta, 11 Oktober 2006
[1] Majalah Tempo Edisi 25 Sept – 01 Oktober 2006.
Subscribe to:
Posts (Atom)